JAKARTA, KOMPAS.com — Perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement ASEAN-China yang mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2010 menuai kontroversi. Pasalnya, perjanjian yang memberlakukan bea masuk ribuan produk dengan tarif nol persen ini dinilai mengancam industri dalam negeri.
Meski demikian, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menegaskan bahwa free trade agreement (FTA) memberi banyak manfaat bagi ekspor dan investasi Indonesia.
"FTA ini sudah dimulai sejak lama. Banyak sektor yang bisa memanfaatkannya," ujarnya saat jumpa pers Awal Tahun di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (5/1/2010).
Mendag menyebutkan bahwa ekspor sektor komoditas unggulan, seperti minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), kakao, dan gelas akan mengalami peningkatan seiring pemberlakuan FTA. Tak hanya itu, Menperdag juga optimistis bahwa FTA mampu mendorong peningkatan investasi dari China ke Indonesia. "Ekspor kita meningkat ke China, seperti CPO dan kakao," kata Menperdag.
Menperdag mengakui, beberapa sektor industri memang telah menyatakan mempunyai masalah dengan pemberlakuan FTA. Untuk itu, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menghadapi FTA. Di samping itu, pemerintah juga telah mengirimkan surat notifikasi kepada seluruh negara ASEAN dan China atas keberatan tersebut. Pemberlakuan FTA diharapkan dapat ditunda di beberapa sektor.
"Pemerintah melakukan respons yang cepat dan akan terus merespons hal-hal yang diangkat. Sektor-sektor itu kan isunya berbeda-beda, jadi dipelajari dulu," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang