JAKARTA, KOMPAS.com - Dibukanya perdagangan bebas ASEAN-China memunculkan kekhawatiran para pelaku usaha industri kecil atau rumahan. Seperti yang diakui Murni, pengusaha industri konveksi rumahan di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.
Menurut Murni, dirinya dan sejumlah pengusaha industri rumahan di Kebon Kacang mengikuti perkembangan isu terkait disetujuinya Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China. Mereka ketar-ketir "menyambut" banyaknya produk China yang akan masuk ke pasar dalam negeri.
Para pengusaha industri rumahan, terutama industri tekstil, takut jika harus bersaing dengan produk-produk murah dari China karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, masuknya produk-produk China ke Indonesia berdampak pada melemahnya pasar lokal.
"Wah iya, kita cukup takut juga. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, produk China itu ampuh banget deh ngancurin pasar lokal. Misalnya gini ya, harga dasar pakaian kan udah mahal, kita ngambil untung udah sedikit sekali deh. Eh, tiba-tiba datang produk China yang harga jualnya murah. Contohnya, kalau kita jual 100 ribu, mereka berani jual 75 ribu. Yah, otomatis pembeli kita cari yang lebih murah dengan kualitas yang sama," ujar Murni.
Terlebih lagi, kata Murni, sebagian besar masyarakat Indonesia sering kali lebih mementingkan harga murah dibandingkan kualitas barang saat membeli sesuatu. Tak ayal, produk China pun sering kali lebih diincar daripada produk sendiri. Padahal, tak jarang kualitas produk-produk tekstil Indonesia lebih baik dari produk negeri tirai bambu itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang