Sampah Ancam Tangsel

Kompas.com - 06/01/2010, 03:18 WIB

Tangerang Selatan, Kompas - Mulai Rabu (6/1) ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang menghentikan pengoperasian 38 armada pengangkutan sampah yang biasa beroperasi di Kota Tangerang Selatan atau Tangsel. Penghentian ini mengakibatkan Kota Tangsel terancam oleh tumpukan sampah.

Kota yang baru dimekarkan setahun terakhir ini juga dilarang membuang sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Jatiwaringin, Mauk, milik Kabupaten Tangerang.

Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kabupaten Tangerang Hery Haryanto, Selasa, membenarkan penghentian operasional kendaraan pengangkut sampah dan pemanfaatan TPA sampah milik kabupaten itu.

”Kewajiban melayani Tangsel seharusnya berakhir sejak tanggal 31 Desember lalu. Dan mulai besok, kami tidak lagi berkewajiban memberikan pelayanan itu kepada Tangsel,” ujar Hery.

Ia mengatakan, pihaknya tidak lagi menganggarkan pengangkutan sampah untuk Tangsel dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tangerang 2010.

Sampah di Kabupaten Tangerang mencapai 1.600 meter kubik dan 600 meter kubik di antaranya berasal dari Tangsel. Padahal, volume sampah yang terangkut itu jauh lebih kecil dibandingkan sampah yang tak terangkut, yang diperkirakan sekitar 4 sampai 5 kali lipat dari sampah terangkut.

Dengan asumsi sehari ada 600 meter kubik tak terangkut, artinya dalam seminggu bakal ada 4.200 meter kubik sampah menumpuk di Tangsel.

Hingga kemarin, tumpukan sampah terlihat di Pasar Ciputat. Selain menutup bangunan bagian bawah pasar, sampah juga menutupi sebagian badan jalan sehingga menimbulkan kemacetan, bau tak sedap, lalat, dan cairan dari sampah. Tumpukan sampah juga terlihat di pinggir Jalan Astek, Jombang. Sampah ini sangat mengganggu pesepeda yang biasa masuk ke jalur pipa gas.

Tidak hanya di pinggir Jalan Astek, sampah-sampah di sebagian kawasan Perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) City, juga sudah tidak diangkut truk pengangkut sampah.

Selasa siang, satu per satu armada pengangkut sampah terlihat memasuki kantor Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kabupaten Tangerang di Cikokol.

Alternatif

Secara terpisah, Asisten II Pemerintah Kota Tangsel yang membidangi pembangunan, Sudrajat, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan alternatif untuk menangani sampah di Tangsel agar tidak menumpuk.

”Sudah ada 9 armada untuk mengangkut sampah. Tahun ini akan dilakukan pengadaan angkutan pengangkut sampah lagi,” papar Sudrajat.

Untuk sementara, menurut Sudrajat, sampah akan diangkut ke tempat pembuangan sampah di Kabupaten Bogor yang letaknya tak jauh dari Tangsel. ”Alternatif TPA dilakukan sembari menunggu optimalisasi TPA sampah Cipeucang milik Tangsel, yang tak terawat,” ujarnya.

Sudrajat mengatakan, pihaknya menyambut baik kesempatan membuat kerja sama pelayanan sampah seperti yang ditawarkan Kabupaten Tangerang.(PIN/GUN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau