Ereveld Leuwigajah, Penggenap Kota Cimahi

Kompas.com - 06/01/2010, 13:45 WIB

BERLATAR belakang pegunungan dan pepohonan rimbun, sebuah taman pemakaman yang tertata rapi menghampar luas di balik taman pemakaman lain, pemakaman umum Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.  Bendera warna merah, putih, dan biru di latar belakang sebuah monumen memberi petunjuk  jelas, taman makam di belakang taman makam umum itu berhubungan dengan Belanda. Sebetulnya, pada pagar masuk ke taman makam ini tertulis jelas Ereveld Leuwigajah.

Taman makam kehormatan Belanda (ereveld) tersebar di pulau Jawa dan satu di Ambon. Di Jawa, taman makam itu terbentang di Jakarta, Ancol dan Menteng Pulo; di pemakaman Pandu; Leuwigajah di Cimahi; di Surabaya taman makam ini terletak di Kembang Kuning; dan di Semarang Taman Makam Kehormatan Belanda ini ada di Kalibanteng dan Candi. Di Asia Pasifik, ereveld Belanda tersebar di Thailand, Myanmar, Singapura, Korea, Hong Kong, dan Australia.  

Di lahan ereveld ini,  sejak zaman Jepang, sudah menjadi lahan pemakaman bagi jenazah para tahanan di kamp tahanan semasa pendudukan Jepang. Meskipun demikian, lahan ini tak hanya berisi jasad tahanan semasa Jepang tapi juga pemakaman bagi serdadu KNIL (Koninklijk Nederlandshe Indische Leger).  Semua pemakaman Belanda ini dipelihara dan diurus oleh sebuah yayasan bernama Oorlogsgraven Stichting dengan semboyan Opdat Zij Met Eere Mogen Rusten (So That They May Rest In Honor).

Dalam website resmi yayasan tersebut disebutkan, ada 5.200 jasad beristirahat di Ereveld Leuwigajah ini. Dan ada 25.000 korban perang yang dimakamkan di tujuh ereveld di Jawa. Ereveld Leuwigajah diresmikan pada 20 Desember 1949.

Begitu masuk ke taman ini, pengunjung bisa melihat monumen berupa prasasti  dengan tulisan besar di atasnya. "Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemoen die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden" (Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi  telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan) - Demikian kalimat itu tertulis, dalam huruf besar,  di atas prasasti tersebut.

Tentu saja, seperti di semua ereveld Belanda, tak semua pengunjung diizinkan masuk, kecuali keluarga. Mereka yang ingin menikmati keindahan taman pemakaman itu dalam bagian dari wisata, harus minta izin terlebih dahulu ke kantor yayasan pemakaman tersebut. Ereveld itu seperti menggenapi Cimahi sebagai kota tujuan wisata.  

Sebuah contoh, betapa sebuah taman makam pahlawan tak dikenal pun berpotensi menjadi atraksi wisata, maka Cimahi dengan begitu banyak potensi wisata, dan selama ini hanya jadi kota yang dilewati orang yang akan menuju Bandung, bisa memantapkan diri menjadi kota tujuan wisata.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau