JAKARTA, KOMPAS.com — Menguak kasus pengucuran dana talangan atau bail out Bank Century mungkin bak mengurai benang kusut. Menemukan pangkalnya, membuka simpulnya, dan mengurai dari pangkal hingga ujungnya.
Sejumlah petinggi Bank Indonesia, mulai dari Wakil Presiden yang mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Boediono, para deputi gubernur, hingga para direktur sudah dimintai kesaksian di Pansus Angket Pengusutan Kasus Bank Century.
Dari para pejabat di "Ring 1" BI, jawaban "lupa" dan "tidak tahu" kerap dilontarkan. Jawaban lainnya, saling lempar ke pejabat di bawahnya. Hal ini sempat membuat geram anggota pansus.
Tak jarang, para anggota mengingatkan para pejabat bank sentral itu agar memberikan keterangan sebenarnya karena sudah disumpah sebelumnya.
Saling lempar tanggung jawab dan perbedaan jawaban membuat pansus merencanakan konfrontasi antarsesama petinggi BI. Boediono akan kembali memberikan kesaksian pekan depan.
Miranda Goeltom juga akan dijadwalkan kembali untuk diminta memberi keterangan setelah tiga saksi yang dihadirkan malam tadi menunjukkan peran besar mantan deputi gubernur ini dalam proses fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) untuk Bank Century.
"Bu Miranda akan kami panggil lagi, mungkin sekitar akhir Januari. Akan dikonfrontasi karena ada keterangan berbeda yang disampaikannya dan bawahannya. Dari fakta-fakta baru yang ditemukan Pansus, ternyata peranan Boediono dan Miranda besar sekali untuk mendorong Bank Century menerima Penyertaan Modal Sementara dan FPJP," kata anggota pansus asal Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, Jumat (8/1/2010), kepada Kompas.com.
Untuk mengungkap proses merger tiga bank yang merupakan cikal bakal Bank Century, para petinggi BI yang akan dikonfrontasi di antaranya mantan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan, Anwar Nasution dan Maman Sumantri, serta mantan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah.
Dari proses FPJP, Miranda Goeltom kemungkinan akan dikonfrontasi dengan Direktur BI bidang Pengawasan Bank.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang