JAKARTA, KOMPAS.com — Terkait perdagangan bebas yang menyebabkan semakin maraknya produk China di pasar Indonesia, pandangan sebelah mata mulai banyak dituju lantaran perdagangan bebas tersebut disinyalir tidak akan menguntungkan.
Aktivis Lembaga Indonesia Peduli (LIP) Edy Burmansyah mengatakan, Indonesia sebagai salah satu negara anggota ASEAN dengan produk paling besar tentu akan menjadi sasaran utama bagi produk-produk China sehingga dikhawatirkan tidak akan memberikan banyak keuntungan bagi Indonesia.
"Sebelum ACFTA diberlakukan saja, pasar dalam negeri sudah dibanjiri oleh produk-produk China," ungkapnya, di Jakarta, Jumat (8/1/2010).
Ia juga menambahkan, saat ini China bahkan telah menjadi sumber utama impor Indonesia, yakni menguasai 17,3 persen dari total impor nonmigas. "Sebaliknya, China hanya menyerap 8,7 persen dari keseluruhan ekspor nonmigas Indonesia," kata dia lagi.
Edy menambahkan, data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa banjir produk murah dari China menyebabkan pangsa pasar usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) domestik turun dari 57 persen pada 2005 menjadi 23 persen pada 2008.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang