SURABAYA, KOMPAS.com - Pemendaman pipa gas Kodeco merupakan solusi jangka pendek. Jika keberadaan pipa gas tersebut masih membahayakan alur pelayaran barat Surabaya, maka relokasi tetap harus dilakukan.
Tahap awal, pemendaman pipa memang harus dilakukan untuk menghindari terjadinya kecelakaan karena pipa sewaktu-waktu dapat terkena lambung atau jangkar kapal. Tapi, jika masih ada masalah, maka pipa harus direlokasi, kata Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak Cholik Kirom, Jumat (8/1/10) di Surabaya.
Menurut Cholik, saat ini pipa gas Kodeco berada pada minus 10,17 meter di bawah permukaan terendah air ( low water spring/LWS). Dengan diameter pipa 50,5 sentimeter, maka posisi permukaan pipa gas teratas berada pada minus 9,7 meter LWS.
"Melihat kondisi ini, kami menginstruksikan agar draft kapal-kapal yang masuk ke alur pelayaran barat Surabaya maksimal minus 8,5 meter LWS. Jadi, ada sela sekitar satu meter antara lambung kapal dengan pipa gas untuk mengantisipasi kemungkinan adanya goncangan kapal akibat gelombang. Lebih dari batas ini, maka akibatnya bisa fatal karena lambung kapal akan membentur pipa gas," ucapnya.
Cholik menambahkan, agar alur pelayaran barat Surabaya dapat dilalui kapal-kapal berbobot besar, maka idealnya kedalaman alur berkisar 12 meter hingga 14 meter. Dengan kondisi alur pelayaran dan kolam yang dangkal, menurut Cholik, seharusnya alur pelayaran barat Surabaya tak layak dipasangi pipa gas maupun kabel listrik bawah laut.
Selain permukaan air laut yang dangkal, di sepanjang alur pelayaran barat Surabaya terdapat 27 bangkai kapal yang karam akibat kecelakaan. Keberadaan bangkai-bangkai kapal ini membahayakan setiap kapal yang melintas di sepanjang alur karena lambung kapal sewaktu-waktu bisa terbentur.
Tak jadi pindah
Sebelumnya, Kepala Perwakilan BP Migas Jatim, Papua, Maluku Hamdi Zainal menyatakan, rencana pemindahan pipa gas yang melintang di alur pelayaran barat Surabaya dibatalkan. PT Kodeco Energy Co Ltd selaku pelaksana pemasangan pipa gas hanya akan memperdalam pemendaman pipa gas hingga tiga meter di bawah dasar laut.
Hamdi beralasan, pemindahan pipa gas Kodeco akan mengakibatkan pasokan energi ke sejumlah pembangkit listrik di Jatim mati. Masalahnya, pipa gas Kodeco menyuplai 120 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) gas yang mampu menghidupkan 600 megawatt listrik untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalliti menyatakan, relokasi pipa gas Kodeco mendesak dilakukan. Selain membahayakan setiap kapal yang melintas, keberadaan pipa gas Kodeco yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kecelakaan laut juga akan berimbas pada turunnya geliat perekonomian Jatim, khususnya sepinya arus transportasi laut di Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang