Adpel: Pemendaman Pipa Kodeco Hanya Solusi Sementara

Kompas.com - 08/01/2010, 20:30 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Pemendaman pipa gas Kodeco merupakan solusi jangka pendek. Jika keberadaan pipa gas tersebut masih membahayakan alur pelayaran barat Surabaya, maka relokasi tetap harus dilakukan.

Tahap awal, pemendaman pipa memang harus dilakukan untuk menghindari terjadinya kecelakaan karena pipa sewaktu-waktu dapat terkena lambung atau jangkar kapal. Tapi, jika masih ada masalah, maka pipa harus direlokasi, kata Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak Cholik Kirom, Jumat (8/1/10) di Surabaya.

Menurut Cholik, saat ini pipa gas Kodeco berada pada minus 10,17 meter di bawah permukaan terendah air ( low water spring/LWS). Dengan diameter pipa 50,5 sentimeter, maka posisi permukaan pipa gas teratas berada pada minus 9,7 meter LWS.

"Melihat kondisi ini, kami menginstruksikan agar draft kapal-kapal yang masuk ke alur pelayaran barat Surabaya maksimal minus 8,5 meter LWS. Jadi, ada sela sekitar satu meter antara lambung kapal dengan pipa gas untuk mengantisipasi kemungkinan adanya goncangan kapal akibat gelombang. Lebih dari batas ini, maka akibatnya bisa fatal karena lambung kapal akan membentur pipa gas," ucapnya.

Cholik menambahkan, agar alur pelayaran barat Surabaya dapat dilalui kapal-kapal berbobot besar, maka idealnya kedalaman alur berkisar 12 meter hingga 14 meter. Dengan kondisi alur pelayaran dan kolam yang dangkal, menurut Cholik, seharusnya alur pelayaran barat Surabaya tak layak dipasangi pipa gas maupun kabel listrik bawah laut.

Selain permukaan air laut yang dangkal, di sepanjang alur pelayaran barat Surabaya terdapat 27 bangkai kapal yang karam akibat kecelakaan. Keberadaan bangkai-bangkai kapal ini membahayakan setiap kapal yang melintas di sepanjang alur karena lambung kapal sewaktu-waktu bisa terbentur.

Tak jadi pindah

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BP Migas Jatim, Papua, Maluku Hamdi Zainal menyatakan, rencana pemindahan pipa gas yang melintang di alur pelayaran barat Surabaya dibatalkan. PT Kodeco Energy Co Ltd selaku pelaksana pemasangan pipa gas hanya akan memperdalam pemendaman pipa gas hingga tiga meter di bawah dasar laut.

Hamdi beralasan, pemindahan pipa gas Kodeco akan mengakibatkan pasokan energi ke sejumlah pembangkit listrik di Jatim mati. Masalahnya, pipa gas Kodeco menyuplai 120 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) gas yang mampu menghidupkan 600 megawatt listrik untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.  

Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalliti menyatakan, relokasi pipa gas Kodeco mendesak dilakukan. Selain membahayakan setiap kapal yang melintas, keberadaan pipa gas Kodeco yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kecelakaan laut juga akan berimbas pada turunnya geliat perekonomian Jatim, khususnya sepinya arus transportasi laut di Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau