"PR" Pemerintah Pasca ASEAN-China FTA

Kompas.com - 09/01/2010, 12:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah tak bisa hanya sekadar "menghibur" bahwa penerapan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang efektif berlaku sejak awal 2010 menguntungkan Indonesia dan tak perlu resah karenanya.

Kenyataannya, pelaku industri lokasi belum siap sepenuhnya untuk menghadapi kerasnya persaingan. Salah satu faktor ketidaksiapan adalah dukungan pemerintah memajukan industri lokal yang memiliki daya saing. Agar tak "mematikan" industri lokal, banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dan menjadi perhatian pemerintah pasca-pemberlakuan ACFTA.

Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia Franky Sibarani mengungkapkan, ada beberapa persoalan yang menurutnya menghambat pelaku industri lokal. Dari sektor industri padat karya, untuk melakukan ekspansi, salah satu kendalanya adalah faktor kredit.

"Kredit kita itu paling tinggi di Asia," kata Franky pada diskusi mingguan mengenai kerja sama pasar bebas ASEAN-China, Sabtu (9/1/2010) di Jakarta.

Faktor lainnya, dukungan infrastruktur yang memudahkan pelaku industri. Ia mencontohkan, mendatangkan produk dari luar negeri lebih murah dibandingkan membelinya dari wilayah Indonesia. Mengapa? Mahalnya biaya transportasi salah satu penyebabnya.

"Misalnya, mendatangkan jagung dari Argentina itu lebih murah dibandingkan kita mendatangkannya dari Sulawesi ke Jakarta karena bea transportasi tinggi. Kendala-kendala ini tidak melulu ada di pusat, tapi juga di daerah," ujarnya.

Oleh karena itu, ia memandang, kendala tersebut merupakan PR besar yang harus diselesaikan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Sisi regulasi juga menjadi faktor penghambat bagi industri lokal. Franky mencontohkan, ada Peraturan Gubernur Jawa Timur yang menerapkan biaya Rp 50 bagi produk yang menggunakan hasil bumi. Di Sumatera Utara, pemerintah daerah mengenakan Rp 5 untuk setiap produk kemasan. Peraturan-peraturan seperti ini dan berbagai biaya lainnya menyebabkan produk lokal memiliki daya saing rendah dari sisi harga.

"Maka, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk menghadapi ACFTA. FTA sudah berjalan. Nah, kita harus bagaimana? Bersatu, menghadapinya bersama-sama," kata Franky.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau