RS Karyadi Bantah Telantarkan Bayi

Kompas.com - 09/01/2010, 21:59 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang membantah telah menelantarkan pasien bayi tanpa anus yang dibawa ke rumah sakit tersebut pada Kamis (7/1/2010) lalu.

"Kami telah melakukan pemeriksaan terhadap pasien tersebut sesuai prosedur," kata Kepala Bagian Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUP dr Kariadi Semarang M Alfan di Semarang, Sabtu (9/1/2010).

Ia menceritakan, pasien bayi tersebut berasal dari Magelang dan tiba di RSUP dr Kariadi pada Kamis. Pasien bayi itu langsung dibawa ke Poliklinik Rawat Jalan. "Pasien itu juga telah mendapatkan pemeriksaan anak, bedah, dan laboratorium, namun usia bayi yang masih dalam hitungan jari menyebabkan pemeriksaan harus hati-hati," katanya.

Namun, kata dia, pihak keluarga pasien tiba-tiba langsung memindahkan bayi tersebut ke rumah sakit lain tanpa alasan pada Jumat kemarin. 

Menurut dia, rumah sakit pasti memiliki prinsip akan melayani pasien sebaik mungkin sesuai tahapan dan prosedur yang ada sehingga tidak mungkin menelantarkan pasien. "Bahkan, pasien itu sebenarnya sudah mendapat sinyal akan dirawat inap. Jadi tidak benar kalau kami menelantarkan pasien," kata Alfan.

Diberitakan sebelumnya, kondisi bayi perempuan berusia 22 hari bernama Devita Canda Wimaladianingsih yang menderita kelainan, Jumat, sempat memburuk akibat tidak segera ditangani RSUP dr Kariadi Semarang.

Pihak keluarga yang takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa bayi tersebut kemudian memindahkannya ke RS St Elisabeth Semarang. Anak kedua dari pasangan suami istri Yamidi (30)-Parmiah (29), warga Desa Losari RT 10 RW 4 Kecamatan Grabag, tersebut menderita berbagai kelainan, di antaranya tidak memiliki anus (atrisiani).

Selain itu, kedua lengan Devita juga tidak bisa lurus dan pada tangan kirinya memiliki enam jari atau dikenal dalam istilah medis dengan nama polydactil.

Parmiah mengatakan, dirinya melakukan proses persalinan anak keduanya itu dibantu seorang bidan di desanya pada 16 Desember 2009, dan bayinya saat itu hanya memiliki berat 1,3 kilogram.

Bidan yang mengetahui ada beberapa kelainan pada tubuh bayi tersebut kemudian menyarankan untuk segera membawanya ke Puskesmas Grabag, lalu disarankan ke RS Tidar Magelang dan dirawat selama dua hari.

Saat di RS Tidar Magelang, Parmiah disarankan agar Devita dirawat di rumah sakit tersebut selama 11 hari, tetapi terbentur permasalahan biaya. "Karena itu, saya kemudian membawa Devita ke RSUP dr Kariadi Semarang dengan mendapatkan rujukan dari RS yang merawat sebelumnya," kata Parmiah yang mengaku telah ditinggal suaminya sejak dua bulan lalu itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau