Gitar di Kamar Budjana

Kompas.com - 10/01/2010, 02:33 WIB

Frans Sartono & Putu Fajar Arcana

Gitar adalah penghuni tetap rumah Dewa Budjana. Ada puluhan gitar yang menjadi ”anggota” keluarga dari gitaris band GIGI dan JavaJazz itu. Bersama sang istri, Putu Borrawati, dan kedua anaknya, Budjana menemukan kenyamanan hidup di rumah yang dia huni sekitar setahun terakhir ini.

Tidak sulit menemukan rumah Dewa Budjana (46) di Pekayon Town House, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Pasalnya, di kompleks yang hanya ditempati sepuluh unit rumah itu rumah Budjana merupakan satu-satunya yang menggunakan angkul-angkul atau semacam pintu gerbang khas Bali. Pintu kayu itu didatangkan khusus dari Singaraja, Bali. Memasuki angkul-angkul itu akan tampak padmasana, tempat doa bagi pemeluk Hindu Bali.

Sebagai anak yang dibesarkan dalam tradisi Hindu-Bali, di dalam ruangan rumah keluarga kecil ini juga terdapat pelangkiran, altar pemujaan leluhur. Bahkan, pada awal menempati rumah, Budjana bersama keluarga melakukan upacara melaspas, upacara suci pembersihan rumah secara spiritual sebagaimana dilakukan di Bali.

Memasuki ruang tamu, kita disambut gitar di meja kayu. Gitar merek Aria Pro itu ditanam di meja kayu yang diberi rongga khusus untuk merebahkan gitar. Meja itu dilapisi kaca tebal sehingga gitar berada dalam posisi aman tanpa tersentuh tangan.

Itulah gitar bersejarah, gitar pertama yang dibeli Budjana. Ia membelinya di toko Joen Shen, Surabaya, Jawa Timur, tahun 1980. Asal tahu saja, gitaris kelahiran Waikabubak, Sumba, NTT, itu besar di Surabaya. ”Harganya Rp 450.000. Cukup mahal untuk ukuran saat itu. Aku mencicil dengan uang muka Rp 50.000. Mencicilnya sampai lima tahun,” tutur Budjana.

Itu baru gitar pertama yang terlihat. Naik ke lantai dua kita akan menemui hampir 50 gitar berbagai merek di satu kamar khusus yang juga berfungsi sebagai studio. Di sana ada gitar Gibson SG seperti yang digunakan gitaris Black Sabbath, Tony Iommi. Ada pula Parker, gitar yang paling banyak dimainkan Budjana. Di ruangan itu Budjana berkreasi. Sebagian garapan musik GIGI dan JavaJazz lahir di ruang yang dilengkapi komputer untuk program komposisi itu.

Sebagian aktivitas keluarga juga berlangsung di lantai dua. Di sini ada kamar utama serta kamar tidur anak. Anak pertamanya, I Dewa Gede Mahavishnu Devananda (5,5), suka bermain komputer di ruang keluarga itu. Borra, sang istri, juga suka membaca di situ.

Budjana meletakkan rak buku menyatu dengan ruang keluarga. Di rak itu bisa ditemukan deretan puluhan buku, termasuk empat seri novel karya Stephenie Meyer, Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn. Ada pula Jejak Langkah-nya Pramudya Ananta Toer. Di rak lain ada koleksi Budjana, Bhagavad Gita, Bharata Yuddha & Pandava Seda, serta A History of God karya Karen Armstrong. Di lantai atas pula Budjana dan istri sering kali berlatih yoga.

Terang dan nyaman

Budjana menyukai rumah yang terbuka di mana sinar matahari leluasa masuk dan menjadi penerang kala siang. Praktis pada siang hari di rumah itu tidak ada lampu menyala. Selain sinar, udara juga diupayakan bebas beredar sehingga tak diperlukan lagi alat penyejuk ruang, kecuali di studio. Untuk itu jendela rumah dibuat lebar.

Rumah bagi Budjana adalah tempat di mana hidup terasa nyaman. Ukuran kenyamanan itu bagi dia bukan semata masalah fisik rumah. Kenyamanan itu diciptakan penghuni. Keluarga menjadi kunci utama kenyamanan. Gitar dan lukisan adalah bagian tak terpisahkan dari kenyamanan tersebut. Ada sejumlah lukisan karya para pelukis terkenal yang menghiasi ruang di rumah dua lantai itu.

Keluarga Budjana pernah sekitar empat tahun tinggal di apartemen. Tetapi, setelah kelahiran anak kedua, I Dewa Gede Shakti Dawainanda (1,5), Budjana kerepotan menaruh gitar-gitarnya. Atas info sahabatnya, Armand Maulana, Budjana kemudian membeli rumah di Pejaten itu. ”Begitu liat, aku langsung bayar uang muka,” tutur Budjana.

Sebelumnya ia pernah tinggal di kawasan Bintaro, di selatan Jakarta. Keluarga Bali ini pindah ke apartemen dan kemudian ke Pejaten untuk alasan kedekatan dengan studio GIGI di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Ingat, Jakarta semakin macet, Bung!

Kenyamanan rupanya juga berkait dengan relasi antarmanusia sebagai sesama pengembara di jagat kehidupan. ”Di sini (Pejaten) kami belajar bertetangga. Dulu di apartemen kami tidak pernah ketemu tetangga. Di sini juga ada sedikit halaman untuk bermain,” kata Budjana.

”Anak-anak juga dapat teman main dengan anak-anak seusia,” kata Borra menambahkan.

Bagi Budjana, rumah adalah tempat ia pulang dan mendapat energi kreatif lahir batin. ”Kalau di rumah sendiri orang merasa tidak nyaman, maka hidup akan repot. Kalau sudah merasa cocok dan nyaman, rasanya keluar rumah itu mau ngapain lagi ya,” kata Budjana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau