Membalaskan Kematian Mehsud

Kompas.com - 10/01/2010, 04:31 WIB

DUBAI, KOMPAS.com - Aksi bom bunuh diri di Afganistan pada pekan lalu yang menewaskan tujuh anggota Badan Pusat Intelijen AS, CIA, dan seorang mata-mata Jordania diakui oleh pelakunya—yang juga orang Jordania—sebagai aksi balas dendam atas kematian pemimpin perlawanan Taliban, Baitullah Mehsud.

”Ini adalah pesan bagi para musuh bangsa, CIA dan anggota intelijen Jordania,” kata seorang berjenggot dalam seragam militer yang diidentifikasi televisi Timur Tengah, Al-Jazeera, sebagai Balawi, Sabtu (9/1/2010).

Rekaman pesan seorang warga Jordania asal Palestina, Humam Khalil Abu-Mulal al-Balawi, sebelum melakukan aksi bom bunuh diri ini disiarkan di seluruh jazirah Arab, Sabtu kemarin.

Seorang anggota keluarga Balawi di Jordania membenarkan bahwa orang tersebut adalah memang Balawi, yang dulu bersama keluarganya hijrah ke Jordania setelah peristiwa invasi Irak ke Kuwait tahun 1990.

Di dalam video, Balawi menyandang senjata, duduk di samping seorang warga negara Afganistan yang mengenakan sorban, dengan bentangan kain warna hitam bertuliskan huruf Arab.

Sejumlah sumber mengatakan, orang bersorban di samping Balawi adalah Hakimullah Mehsud, yang menggantikan Baitullah Mehsud, pemimpin Taliban yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak milik AS, Agustus silam, di Afganistan.

”Kami katakan kepada Emir Baitullah Mehsud, kami semua tidak akan lupa atas darah yang ditumpahkannya. Bergantung pada kami untuk membalaskan dendamnya di dalam ataupun di luar Amerika,” kata Balawi dalam rekaman.

Balawi meledakkan dirinya di sebuah pangkalan militer di Khost, Afganistan, dekat perbatasan Pakistan pada 30 Desember lalu. Tujuh anggota CIA dan seorang agen intelijen Jordania tewas.

Agen ganda?

Sejumlah sumber intelijen senior Jordania, bahkan juga sejumlah situs di internet, mengatakan, Balawi sebenarnya adalah agen ganda, baik bagi kubu Taliban maupun Jordania yang pro-Barat.

”Jordania diuntungkan dengan sejumlah informasi yang diberikan Balawi sejak setahun lalu. Dan, ini berguna bagi pihak intelijen guna melancarkan aksi-aksi kontra terorisme,” ungkap seorang agen intelijen senior Jordania.

Akan tetapi, semua pendapat tersebut ditepis oleh Balawi melalui pernyataannya dalam rekaman menjelang aksi di Afganistan.

”Pejuang untuk Allah tak pernah mengungkapkan agama demi sebuah pemerasan, ataupun mengingkarinya, meskipun dia ditawari matahari di satu tangan dan bulan di tangan yang lain.” katanya.

Rekaman video itu, menurut Al-Jazeera, diambil di sebuah tempat latihan menembak di Pakistan.

Apa yang diungkapkan Balawi ini juga ditegaskan oleh sebuah situs jihad di internet, Kamis, yang mengutip ucapan pemimpin Al Qaeda di Afganistan, Mustafa Abu al-Yazid, bahwa si pelaku bom bunuh diri di Khost itu memang melakukan aksi balas dendam untuk ”para martir kebenaran kami”.

Apa yang dilakukan Balawi itu, kata Abu al-Yazid, sebagai sebuah langkah ”terobosan kepahlawanan” dalam menembus intelijen AS ataupun Jordania.

Mendiang Baitullah Mehsud yang disebut-sebut Balawi adalah tokoh terkemuka Taliban yang diduga kuat menjadi otak di balik serangan di Pakistan pada Desember 2007, yang menewaskan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto. (AFP/AP/Reuters/SHA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau