Serangan Al Qaeda Merambah Barat dan Timur

Kompas.com - 10/01/2010, 06:15 WIB

Musthafa Abd Rahman

KOMPAS.com - Rasa keterkejutan Amerika Serikat belum lagi surut. Seorang pria asal Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab, melakukan percobaan peledakan terhadap pesawat Northwest Airlines, saat mendarat di Detroit dari Amsterdam, persis pada hari Natal 25 Desember 2009.

Kembali AS dientak aksi serangan bom bunuh diri, yang menewaskan tujuh agen CIA di pangkalan AS di Provinsi Khost, Afganistan Timur, lima hari setelah kejadian Natal, pada 30 Desember 2009.

Pelakunya diduga kuat agen ganda Al Qaeda bernama Humam Khalil Abu-Mulal al-Balawi, asal Jordania, yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter.

Serangan Al Qaeda yang menampar AS akhir 2009 ini serta-merta menjadi bagian dari rangkaian panjang serangan bom selama hampir satu dekade, mulai dari AS di ujung barat hingga Indonesia di ujung timur.

Sebut saja mulai dari tragedi 11 September 2001 di AS. Setahun berikutnya bom di Bali (2002 dan 2005) serta peledakan Hotel Marriott di Jakarta (2003 dan 2009).

Sinagoga Yahudi di Pulau Jerbah, Tunisia (2002), juga dibom; lalu di Riyadh, Arab Saudi (2003); di Madrid, Spanyol (2004); dan di Casablanca, Maroko (2007). London pun tak luput dari bom (2005 dan 2007), hingga bom di Istanbul, Turki ( 2008).

Mungkinkah Al Qaeda berada di balik serangkaian serangan bom itu?

Secara konseptual dan ideologis, Al Qaeda memang dirancang sebagai gerakan global. Ada dua konsep pola operasi yang diusung dua konseptor murid kesayangan Osama bin Laden, yakni Abu Bakar Naji dan Abu Musab As Suri.

Konsep pertama, membentuk wilayah aman sebagai basis Al Qaeda dan menjadi titik tolak serangan terhadap sasaran kepentingan AS dan Barat di seluruh dunia.

Konsep itu diusung konseptor Abu Bakar Naji (bukan nama sebenarnya) yang keberadaannya hingga saat ini tak diketahui persis. Menurut Abu Bakar Naji, negara-negara lemah, seperti Afganistan, Somalia, Yaman, dan Sudan, berpotensi dijadikan basis Al Qaeda sebagai tempat persembunyian, perekrutan, pelatihan, dan perancangan serangan.

Konsep kedua, membangun jaringan longgar dengan tekanan pada pola komando desentralisasi. Konsep ini diusung Abu Musab As Suri yang kini ditahan AS. Menurut Abu Musab As Suri, Al Qaeda harus lebih mengandalkan sistem bukan organisasi. Karena itu, perhatian harus dibina dan diberikan pada sel-sel yang tersebar di seluruh dunia tanpa harus terikat secara organisatoris dengan induk Al Qaeda.

Konsep Musab As Suri itulah yang melahirkan sistem jaringan Al Qaeda dengan lingkup operasi yang sangat luas dari AS, Eropa, Afrika, hingga Asia Tenggara (Indonesia).

Sebelum tragedi 11 September 2001 di AS, Al Qaeda menerapkan konsep Abu Bakar Naji. Maka, Bin Laden menjadikan Sudan sebagai basis Al Qaeda sejak 1991 hingga 1996 dan kemudian Afganistan sejak 1996 hingga 2001.

Pasca tragedi 11 September 2001 dan pemimpin Al Qaeda mulai diburu AS, Al Qaeda menerapkan konsep Abu Musab As Suri, yakni menjadikan Al Qaeda sebagai payung ideologis saja yang menaungi jaringan sel-sel di seluruh dunia dengan sistem komando desentralisasi.

Konsep Abu Bakar Naji

Konsep Abu Bakar Naji dilaksanakan pada fase pertama dan kedua perjalanan perlawanan Al Qaeda. Fase pertama, dimulai sejak Al Qaeda didirikan oleh Sheikh Abdullah Azzam (1988) hingga Osama Bin Laden meninggalkan Sudan dan menetap lagi di Afganistan (1996).

Sheikh Azzam yang berasal dari Palestina, tewas secara misterius di Peshawar, Pakistan, tahun 1989. Misi Al Qaeda pada fase pertama ini sangat terbatas, hanya ditujukan untuk mengusir pasukan pendudukan Uni Soviet dari Afganistan (1988-1989), mengusir pasukan AS dari Arab Saudi pascahengkangnya Irak dari Kuwait (1991), dan membantu kaum minoritas Muslim yang terzalimi di mana pun di muka bumi ini. Pada fase pertama ini, Al Qaeda mengambil basis di kota Pershawar, Pakistan (1988-1989), dan kemudian di Sudan (1991-1996).

Fase kedua dimulai sejak 1996 hingga tragedi 11 September 2001 di AS. Pada fase ini, misi Al Qaeda lebih meluas untuk mengusir pendudukan asing dari negara-negara Islam.

Kisahnya bermula dari pendudukan Irak di Kuwait pada tahun 1990. Saat itu Osama bin Laden meminta kepada Raja Arab Saudi Fahd bin Abdul Aziz untuk mengizinkan Tanzim Al Qaeda berperang mengusir pasukan Irak dari Kuwait tanpa harus meminta bantuan pasukan asing lainnya.

Namun, Raja Fahd menolak permintaan Osama bin Laden itu dan memilih menerima bantuan AS. Osama bin Laden mengkritik keras keputusan Raja Fahd itu dan memilih hengkang dari Arab Saudi menuju Sudan pada tahun 1991. Osama bin Laden saat itu bersumpah akan memerangi pasukan AS dan asing yang berada negara-negara Islam.

Dia lalu meminta Ayman Thawahiri membentuk milisi bersenjata dengan memanggil kembali para pemuda dari mancanegara yang pernah berjuang di Afganistan. Thawahiri dalam waktu cepat menghimpun para pemuda itu dan melatih mereka di Yaman, Sudan, dan Kenya.

Osama bin Laden lalu membentuk satuan perlawanan Tanzim Al Qaeda di bawah komando Ali Rasyidi untuk melawan AS di Somalia yang berhasil diusirnya dari negeri itu pada tahun 1993. Ali Rasyidi lebih dikenal dengan sebutan Abu Ubaidah Al Panshir karena berasal dari lembah Panshir, Afganistan Utara. Ia tewas saat perahunya tenggelam di Danau Victoria, Afrika, tahun 1996.

Tanzim Al Qaeda lantas mengincar pasukan AS yang masih bercokol di Arab Saudi pascapembebasan Kuwait dari Irak. Al Qaeda berhasil menyerang kompleks perumahan pasukan AS di kota Khobar, Arab Saudi, tahun 1996 dan menewaskan puluhan tentara AS saat itu.

Arab Saudi lalu meminta Pemerintah Sudan mengusir Osama bin Laden. Bulan Juni 1996, Osama bin Laden beserta keluarga dan sekitar 120 pengikut setianya meninggalkan Sudan menuju Afganistan.

Setelah menetap kembali di Afganistan, Osama bin Laden dan Ayman Thawahiri mendeklarasikan berdirinya ”Front Internasional untuk Melawan Yahudi dan Kaum Salib” pada Februari 1998. Misi targetnya kepentingan AS dan Barat di seluruh dunia. Mulai saat itu adalah titik balik pertarungan AS-Al Qaeda yang tak mengenal waktu dan tempat lagi.

Aksi pertama Al Qaeda di bawah bendera Front Internasional untuk Melawan Yahudi dan AS adalah meledakkan gedung kedutaan AS di Nairobi, Kenya, dan Darus al Salam, Tanzania, pada Agustus 1998.

Kemudian dilanjutkan serangan atas kapal perang USS Cole di lepas pantai Aden, Yaman, pada Oktober 2000, 17 anggota AL AS tewas. Klimaks dari serangan Al Qaeda itu adalah tragedi 11 September 2001 di New York dan Washington DC.

Konsep Abu Musab As Suri

Fase ketiga dimulai pascatragedi 11 September 2001 hingga saat ini. Pada fase itu, Al Qaeda menerapkan konsep Abu Musab As Suri.

Ada dua dampak dari penerapan konsep Abu Musab As Suri itu. Pertama, meluasnya jaringan Al Qaeda dalam bentuk sel atau sindikat yang tersebar di seluruh dunia, mulai dari AS, Eropa, Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara, dengan payung ideologi atau misi perjuangan yang sama tanpa harus berada dalam satu komando.

Maka muncul Al Qaeda di Semenanjung Arab yang bertanggung jawab di Yaman dan Arab Saudi, Al Qaeda di Bilad Rafidain yang bertanggung jawab di Irak, Al Qaeda di Maghrib Arab yang bertanggung jawab di Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya, serta sel-sel lebih kecil di AS, Eropa, Asia Tengah, dan Asia Tenggara.

Kedua, akibat meluasnya sel-sel Al Qaeda itu, makin meluas pula lingkup operasinya, mulai dari Indonesia di ujung timur hingga AS di ujung barat.

Fase ini juga ditandai, kebijakan Al Qaeda berkoalisi atau minimal memberi dukungan moral terhadap kekuatan politik atau militer di sebuah negara yang memiliki kesamaan ideologi atau misi perjuangan.

Dalam konteks kesamaan ideologi, Al Qaeda kini berkoalisi dengan Taliban di Pakistan dan Afganistan, kelompok Al Shabab Mujahidin di Somalia, serta memberikan dukungan moral terhadap jaringan Jemaah Islamayah (JI) di Asia Tenggara.

Dalam hal kesamaan misi perjuangan, Al Qaeda kini berkoalisi dengan Partai Baath di Irak dan diduga kuat terlibat main mata dengan kelompok-kelompok bajak laut di lepas pantai Somalia dan Teluk Aden yang marak terakhir ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau