JAKARTA,KOMPAS.com - Kesedihan tergurat jelas di wajah Nur Hamidah, ibu Ardiansyah, bocah yang menjadi korban kekerasan seksual dan pembunuhan oleh Baikuni alias Babeh (48). Ia sungguh tak menyangka, pria yang selama ini ia percayakan untuk membantu mengasuh Ardiansyah justru tega menghabisi nyawa putranya itu.
Selama ini Nur Hamidah memang kerap mempercayakan Ardiansyah dibawah pengasuhan Baikuni, selama anak keempatnya itu mengamen di sekitar kawasan Pulogadung Trade Center (PTC).
Kesulitan ekonomi memaksanya untuk membiarkan putra keempatnya itu untuk ikut mengamen bersama Baikuni. Terlebih rumah kontrakannya yang sempit kerap kali tak muat untuk berteduh bersama suami dan kelima anaknya yang lain.
Penghasilan Indra, suaminya, sebagai supir tembak pun kadang tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. "Saya enggak nyangka dia tega bunuh anak saya. Saya enggak pernah curiga," kata Nur Hamidah saat ditemui Kompas.com di rumah kontrakannya, Gang Ketut, Tipar Cakung, Jakarta Timur, Minggu (10/1/2010).
Tak sedikitpun kecurigaan muncul di benak Nur Hamidah sejak pertama kali mengenal Baikuni. Perawakannya yang sopan dan lembut sama sekali tak menandakan seorang pembunuh berdarah dingin.
Nur Hamidah mengaku pertama kali mengenal Baikuni dari Ardiansyah. Kekerapan Ardiansyah bertemu dengan Baikuni saat mengamen, menbuat keduanya dekat layaknya ayah dan anak. Baikuni memang seorang pedagang asongan yang saban hari ngetem di kawasan Pulogadung Trade Center. Melihat kebaikan hati Baikuni, Nur Hamidah pun membiarkan putranya itu untuk berada di bawah pengasuhan Baikuni. Pun tiap kali Ardiansyah ingin menginap di rumah Baikuni, ia pun selalu mengizinkan.
"Kalo mau menginap di rumah Babeh, Ardi selalu bilang sama saya. Saya juga bilang ke Babeh, 'tolong jagain anak saya ya'. Dia selalu bilang 'iya saya jagain'," tuturnya.
Tak sekalipun ia menaruh curiga, lantaran ia tahu memang banyak anak-anak sering menginap di rumah Baikuni. Pun selama ini tak ada cerita miring mengenai perilaku Baikuni. "Dia biasa aja. Kayak orang enggak ada dosa," tambahnya.
Namun, semuanya berubah saat ia mendengar kabar ada seorang anak yang ditemukan tewas dimutilasi di sekitar jembatan BKT Cakung. Ia mulai merasa janggal lantaran anaknya tak kunjung pulang sejak menginap di rumah Baikuni. Padahal, pada Kamis malam lalu saat Ardiansyah dibunuh Baikuni, putranya itu masih sempat izin menginap di rumah pria tak beristri itu. "Besokannya saya cariin ke rumahnya, kata Babeh dia enggak ke situ. Enggak tahunya dia bohong sama saya. Anak saya sudah dia bunuh," tuturnya.
Ia pun segera tahu bahwa putranya menjadi korban saat diajak polisi mendatangi rumahnya. Rasa was-was mengalir deras saat polisi mengajak ia dan suami untuk melihat jenazah korban di RS Polri Sukanto, Jakarta Timur. Tak ayal, ia pun mengenali jasad terpotong lima bagian itu sebagai Ardiansyah putranya, dari ciri-ciri dan tanda bekas luka yang dimilikinya.
Kecurigaannya langsung mengalir deras pada Baikuni. Dari keterangan Nur Hamidah itulah, polisi kemudian membekuk Baikuni di rumah kontrakannya di Gang H Dalim, Pulogadung, Jakarta Timur. Di tempat itu di dapati sejumlah barang bukti golok yang digunakan Baikuni dan pakaian milik Ardiansyah yang masih berlumuran darah.
Dari penyelidikan polisi belakangan diketahui, Baikuni tak hanya menghabisi dan memutilasi korban, namun juga melakukan sodomi saat Ardiansyah telah meregang nyawa. Jasad Ardiansyah dipotong menjadi lima bagian sebelum dibuang terpisah. Bagian tubuhnya yang terpotong empat bagian dibuang di pinggiran jembatan BKT Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jaktim. Sementara kepalanya ditemukan di kolong jembatan Terminal Pulogadung.
Kini semua sudah menjadi bubur. Nur Hamidah sudah tak tahu mesti berbuat apalagi. Ia hanya bisa memasrahkan diri merelakan kematian anaknya dengan cara yang tragis. Kepercayaannya pada Baikuni hancur sudah. Sosok yang dia anggap sebagai pengasuh anaknya itu justru menjadi pagar makan tanaman. Hukuman seberat-beratnya pun ia harapkan segera menjadi ganjaran bagi Baikuni.
"Saya enggak ngerti hukum mas. Tapi dia harus dihukum seberat-beratnya. Jangan cuma dihukum mati, tapi harus disiksa sampai mati, sama seperti dia memperlakukan anak saya," tandasnya dengan mata berkaca-kaca.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang