Okky Ngaku Kangen, Pasha Ungu Hanya Senyum

Kompas.com - 11/01/2010, 16:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Proses perdamaian Okky Agustina dan Sigit Purnomo alias Pasha "Ungu" yang dimotori Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bogor, Jawa Barat, dalam persidangan minggu lalu sepertinya berbuah manis.

Sikap keras Okky yang ngotot memenjarakan mantan suaminya terkait kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mulai melunak.

Meski begitu, Pasha tak mau berandai-andai. Katanya, ia akan tetap mengikuti proses persidangan sesuai prosedur. "Kita lihat saja di sidang nanti. Kalau saling memaafkan kemarin kan sudah kalian lihat di persidangan," ucapnya ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (11/1/2010).

Menurut Pasha, dalam proses persidangan selanjutnya ia memilih menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukumnya. Ia bahkan tak tahu-menahu siapa yang akan menjadi saksi pada sidang selanjutnya yang mengagendakan keterangan saksi dari pihak Pasha.

"Jangan tanya saya, saya enggak tahu. Lihat saja nanti di pengadilan," jawab Pasha saat ditanya mengenai saksi yang bakal dihadirkan dari pihaknya.

Sementara itu, disinggung soal status yang ditulis Okky lewat situs jejaring sosial Facebook baru-baru ini, yang mengutarakan kerinduan terhadap dirinya, Pasha tak mau banyak komentar. Ia hanya melemparkan senyum terbaiknya. (C9-09)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau