Kaki Bengkak, Anggodo Tak Penuhi Panggilan KPK

Kompas.com - 12/01/2010, 12:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggodo Widjojo akhirnya tidak memenuhi panggilan pemeriksaan lanjutan KPK yang dijadwalkan pada Selasa (12/1/2010). Dia mengaku masih shock dengan kejadian tadi malam dan karena kakinya bengkak.

Kepastian tidak datangnya Anggodo itu disampaikan salah satu kuasa hukumnya, Thomson Situmeang, yang datang ke KPK pada pukul 12.00 WIB untuk menyampaikan keterangan resmi ke KPK.

"Alasan karena shock tadi malam. Kakinya bengkak. Enggak tahu apa karena keinjek, kebentur atau apa," kata Thomson.

Pihaknya menyesalkan terjadinya insiden kericuhan tadi malam yang membuat kliennya terpojok. Keamanan di KPK pun dipertanyakan karena pendemo bisa melakukan aksi di luar jamnya dan bisa masuk ke area dalam KPK.

"Karena itu kita minta jaminan keamanan resmi dari KPK, sebelum memenuhi panggilan berikutnya," imbuhnya.

Meskipun menyatakan tetap bersedia memenuhi panggilan berikutnya, pihaknya meminta agar agenda pemeriksaan tidak dilakukan dulu dalam dua hari ke depan. Setidaknya pada Kamis nanti kliennya baru siap diperiksa lagi.

Sementara itu, ditanya keberadaan Anggodo saat ini, Thomson menyatakan tidak tahu. Namun, kliennya itu berada bersama dengan Bonaran.

"Sama Pak Bonaran, kita enggak tau ke mana perginya," tukasnya.

Sebelumnya, Senin malam, evakuasi Anggodo saat keluar Gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan diwarnai aksi demo dan lempar telur. Adik buron KPK Anggoro Widjojo itu pun batal memberikan keterangan pers.

Hal itu terjadi saat Anggodo selesai menjalani pemeriksaan lanjutan oleh KPK, Senin (11/1/2010) sekitar pukul 22.12 WIB. Anggodo yang didampingi sejumlah kuasa hukumnya digiring menuju mobil sedan Toyota warna silver yang telah menunggu di depan Kantor KPK.

Namun, selain kerumunan wartawan yang menyambutnya, Anggodo juga dicegat dengan aksi demo. Aksi mulai menjadi anarki saat salah satu pendemo yang diduga mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta itu naik ke kap mobil sedan Anggodo dan loncat-loncat sambil meneriakkan gantung-gantung Anggodo, hingga membuat kap mobil penyok.

Saat kerumunan wartawan mencoba mengambil statement Anggodo, aksi para pendemo tambah panas. Anggodo pun akhirnya memilih bungkam dan terus saja menuju mobilnya. Sementara kalangan wartawan mulai gelisah karena tidak mendapatkan statement Anggodo dan terus mendesak agar dia bicara.

Ketika sudah masuk dalam mobil dan mulai dijalankan, sejumlah pendemo lain tiba-tiba melemparkan beberapa butir telur ke mobil Anggodo dan menggebraknya. Mobil Anggodo pun tancap gas setelah mendapat serangan itu.

Sementara kalangan media yang telah menunggu lama untuk mendapatkan statement Anggodo jadi kesal dan menguber pelaku pelemparan. Apalagi, sebagian telur mengenai peralatan liputan wartawan, seperti kamera shooting dan kamera foto.

Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Namun, pelaku pelemparan lolos. Sementara koordinator aksi diamankan untuk dimintai pertanggungjawaban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau