BEIJING, KOMPAS.com — Korea Utara tidak akan kembali ke negosiasi perlucutan senjata nuklir kecuali jika Amerika Serikat setuju membicarakan perjanjian damai dan penghapusan sanksi.
Seorang diplomat senior Korut mengatakan hal itu, Selasa (12/1/2010) seraya menambahkan bahwa pengabaian atas dua hal itu berarti tidak ada kemajuan. Sebelumnya, Pyongyang telah meminta diadakannya pembicaraan dengan AS dan negara-negara kuat dunia lain untuk mengakhiri secara formal Perang Korea tahun 1950-1953. Namun, Gedung Putih menegaskan, Korut harus melanjutkan negosiasi perlucutan nuklir yang telah berhenti sebelum proposal semacam itu dipertimbangkan.
Duta Besar Korut untuk China Choe Jin Su mengatakan dalam sebuah jumpa pers yang jarang terjadi di Beijing bahwa akan ada kemajuan jika tuntutan negara komunis itu dipenuhi. Choe juga mengatakan, negosiasi yang melibatkan enam negara itu dapat berlanjut hanya jika sanksi terhadap Korut disingkirkan dan proposal pembicaraan perjanjian perdamaian diterima.
"Sebuah perjanjian damai dapat menghapus relasi permusuhan antara DPRK (Democratic People’s Republic of Korea) dengan AS dan secara cepat serta aktif memajukan perlucutan nuklir di Semenanjung Korea," kata Choe yang berbicara melalui penerjemah berbahasa Inggris dan China kepada sekelompok kecil wartawan.
DPRK, nama resmi Korut, melakukan tes nuklir kedua pada Mei 2009. Tindakan itu memicu kecaman internasional dan sanksi terbaru dari PBB.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang