JK: Korupsi Kebijakan Bahayakan Generasi Berikut

Kompas.com - 12/01/2010, 19:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Korupsi di tingkat kebijakan dinilai paling berbahaya dan rawan dibandingkan korupsi di tingkat pelaksanaan. Pasalnya, korupsi di tingkat kebijakan akan merembet generasi berikutnya sebuah bangsa. Namun, korupsi di tingkat pelaksanaan han ya akan menyeret si pelaku dan akibat dari pelaksanaannya saja.

Mantan Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla, menyatakan hal itu saat ditanya pers, seusai menghadiri serah terima dan peresmian pengurus baru Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat di Kantor PMI, Jakarta, Selasa (12/1/10).

"Beberapa contoh kebijakan yang dikorupsi itu adalah seperti Kasus Bank Century dan beberapa kasus lainnya di bidang eksploitasi energi. Akan tetapi menurut saya, kasus Bank Century itu korupsi kebijakan dan sekaligus korupsi di tingkat pelaksanaan. Korupsi kebijakan, yang mengatasnamakan krisis global. Sedangkan korupsi pelaksanaan, ya korupsi yang terjadi di aliran itu saja," katanya menegaskan.

Dikatakan Kalla, korupsi kebijakan sekaligus di tingkat pelaksanaan jelas terjadi di Bank Century. "Korupsi kebijakan yang mengatasnamakan krisis global itu jelas dimanfaatkan dan menguntungkan orang-orang seperti Robert Tantular," jelas Kalla.

Menurut Kalla, korupsi kebijakan di bidang energi juga banyak terjadi. Akan tetapi, sulit untuk ditelusuri. Namun, dampaknya luar biasa bgai generasi berikutnya. Selain sumber daya energi kita habis, rakyat tidak menikmatinya sama sekali.     

Kalla kemudian memberikan contoh, yaitu ekspor gas dari Natuna Kepulauan Riau ke China dengan harga murah. Padahal, China menggunakan gas itu untuk memproduksi barang-barang yang kemudian dieskpor ke Indonesia.

Menurut Kalla, korupsi tidak terjadi hanya di tingkat atas, akan tetapi juga di tingkat bawah. "Waktu saya masih menjadi pengusaha ketika kapal saya yang mengangkut TKI ditangkap kepolisian Malaysia, waktu itu para TKI memberi tip kepada aparat keamanan Malaysia di atas meja. Ini karena di Indonesia kalau mau meninggalkan satu daerah selalu memberikan hadiah. Artinya budaya kita juga sudah menggurita," ujar Kalla lagi.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau