Hanya 10 BUMN Merugi Tahun Ini

Kompas.com - 13/01/2010, 06:56 WIB

JAKARAT, KOMPAS.com - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara menargetkan jumlah BUMN yang merugi akan berkurang separuh dari 20 perusahaan tahun 2009 menjadi 10 perusahaan pada tahun ini. PT Perusahaan Listrik Negara, yang biasanya merugi, tahun 2009 mulai meraup untung.

”Kami memiliki target pada tahun 2010, jumlah BUMN yang merugi harus berkurang 50 persen. Caranya, antara lain, dengan right sizing, merger, hingga penyuntikan modal. Pemerintah tidak perlu menyediakan modal karena suntikan modal itu bisa dilakukan antar-BUMN,” ujar Menneg BUMN Mustafa Abubakar di Jakarta, Selasa (12/1).

Tahun ini pihaknya akan mengkaji secara lebih komprehensif guna mengidentifikasi masalah yang dihadapi BUMN. Kajian ini diharapkan bisa menemukan alternatif solusi terbaik untuk kelangsungan usaha BUMN bersangkutan.

Saat ini perusahaan yang diberikan tugas menyediakan modal untuk BUMN adalah PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). PPA diberi mandat menyehatkan BUMN yang mengalami masalah keuangan mulai tahun 2009, antara lain PT PAL dan Balai Pustaka. Ke depan, PPA juga diminta untuk memperkuat struktur keuangan BUMN di industri strategis, antara lain PT Pindad.

PLN bagi dividen

Untuk tahun 2009, jumlah BUMN merugi ditekan dari 23 perusahaan menjadi 20 perusahaan. Selama ini penyumbang rugi terbesar BUMN adalah PLN, yang mencapai 90 persen. Pada tahun 2009 PLN tidak merugi akibat pemberian margin oleh pemerintah sebesar 5 persen. Atas dasar itu, total kerugian BUMN tahun 2009 akan turun dari Rp 13,95 triliun tahun 2008 menjadi Rp 1,17 triliun.

Menurut Mustafa, PLN mampu mencatat laba mulai tahun 2009 karena mendapatkan margin sebesar 5 persen. Dengan margin itu, PLN sanggup menyetorkan dividen senilai Rp 7 triliun tahun 2009 ke kas negara. Tahun 2010, pemerintah berkomitmen menaikkan margin PLN menjadi 8 persen.

Dengan kenaikan margin itu, PLN tidak hanya untung, tetapi juga sangat sehat untuk mendapatkan kredit perbankan dan melakukan ekspansi usaha. ”Pada tahun 2009, dengan dividen Rp 7 triliun, pay out ratio (rasio laba bersih yang dibayarkan untuk dividen) PLN sebesar 50 persen. Tahun 2010, pay out ratio-nya kami turunkan menjadi 35-50 persen. Namun, saya belum tahu nominalnya,” ujarnya.

Dengan naiknya margin menjadi 8 persen, pemerintah memastikan kontribusi PLN dalam bentuk dividen akan turun pada tahun 2010. ”Kami sudah mendapatkan lampu hijau dari Menteri Keuangan terkait hal itu,” ungkap Mustafa.

Rp 30 triliun

Mustafa menyebutkan, pihaknya menargetkan setoran dividen dari BUMN pada tahun 2010 sebesar Rp 30 triliun. Target ini naik daripada target sebelumnya sekitar Rp 28,6 triliun.

”Kenaikan ini memungkinkan karena rencana kerja semua BUMN diminta agar diperbaiki dengan memasukkan unsur penghematan, efisiensi, dan menekan ongkos operasional. Ini nantinya kami harap bisa menutupi target dividen tersebut tanpa mengganggu belanja modalnya,” kata Mustafa.

Target dividen APBN 2009 sebesar Rp 26,8 triliun. Target itu dinaikkan lagi dalam APBN Perubahan 2009 menjadi Rp 28,6 triliun. Realisasinya, dividen yang dihimpun Rp 28,62 triliun.

Realisasi dividen tersebut berasal dari BUMN non-Pertamina senilai Rp 15,54 triliun atau 4,7 persen di atas targetnya (Rp 14,81 triliun). Sisanya dividen Pertamina sebesar Rp 13,08 triliun. Pertamina menyetorkan dividen dalam bentuk uang tunai Rp 10,47 triliun, peningkatan domestic market obligation (DMO) Rp 1,72 triliun dan penyelesaian utang PLN Rp 0,9 triliun.

Adapun belanja modal (yang merupakan indikasi investasi) BUMN dalam rencana kerja perusahaan ditetapkan Rp 152 triliun. Sementara itu, target belanja operasional BUMN ditetapkan sebesar Rp 836 triliun.(OIN/EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau