NEW YORK, KOMPAS.com — Harga minyak jatuh pada Rabu (13/1/2010) waktu setempat karena stok minyak mentah Amerika Serikat meningkat, yang menunjukkan lemahnya permintaan di negara konsumen energi terbesar di dunia itu, di mana sebuah penangguhan dari cengkeraman cuaca dingin telah diperkirakan.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari, merosot 1,14 dollar AS ditutup pada 79,65 dollar AS per barrel setelah sempat jatuh ke titik terendah harian, 78,37 dollar AS.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari merosot 99 sen menjadi menetap di 78,31 dollar AS ber barrel setelah menyentuh 77,04 dollar AS.
Pasar bereaksi terhadap laporan Departemen Energi AS (DoE), Rabu, bahwa cadangan minyak mentah AS naik 3,7 juta barrel dalam pekan yang berakhir 8 Januari. Itu jauh lebih dari ekspektasi oleh sebagian besar analis untuk kenaikan 1,0 juta barrel.
"Distilasi–termasuk bahan bakar pemanas dan diesel–naik sebesar 1,4 juta barrel," kata DoE, mengalahkan perkiraan turun 1,8 juta barrel.
Distilasi berada di bawah fokus pasar di tengah gigitan cuaca dingin yang berkelanjutan di ASt. Peramal cuaca memperkirakan lebih ringan untuk beberapa minggu ke depan. "Seluruh pasar didorong oleh laporan persediaan. Ini jelas sesuatu yang mengejutkan untuk melihat bangunan persediaan distilasi yang semuanya diberikan pada cuaca dingin," kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates.
Ellis Eckland, seorang analis independen, mengatakan, pasar ambruk ke depan sebesar 78 dollar AS, yang merupakan dukungan berikutnya menyusul laporan stok AS.
Minyak mentah New York yang sempat melonjak pada Senin ke titik tertinggi 15 bulan mendekati 84 dollar AS didukung data ekonomi China yang kuat.
Harga minyak telah merosot pada Selasa di tengah prospek berkurangnya permintaan bahan bakar pemanas di AS karena berkurangnya cuaca dingin dan langkah baru China untuk mendinginkan ekonominya.
Berita itu memicu pasar minyak karena China adalah konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS. Beijing minggu ini menaikkan persyaratan cadangan giro wajib minimum bank.
"Ini sinyal bahwa bank sentral sedang bergeser dari akomodatif menjadi memperketat dan akan mengambil beberapa momentum keluar dari pertumbuhan permintaan komoditas, di mana China telah bertanggung jawab atas sebagian besar tahun lalu," kata Mike Fitzpatrick, Wakil Presiden MF Global.
"Meningkatnya suhu di seluruh negara (AS) juga akan mengurangi permintaan bahan bakar pemanas dan akan membebani harga minyak," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang