High Scope Indonesia Tawarkan Visi "Creative Work"

Kompas.com - 14/01/2010, 16:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada perbedaan yang sangat mencolok dalam tujuan pelaksanaan pendidikan di negara moderen seperti Amerika Serikat dan negara berkembang seperti Indonesia.

Tren pendidikan di AS saat lebih ini ditujukan untuk menciptakan lulusan yang kemampuan intelektualnya tidak dapat digantikan oleh mesin. Para lulusan di AS diharapkan hanya akan menjadi pencetak ide-ide kreatif, peneliti, dan penganalisa. Mereka menjual segala karyanya sebagai kerja kreatif yang sungguh mahal harganya.

"Sementara di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kita masih melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin, baik yang kita lakukan dengan tangan sendiri maupun mesin-mesin produksi, karena pendidikan kita memang mengarahkan demikian. Kita hanya membeli dan memakai dari mereka, bukan mencipta," ujar Upie Naimah, Head of Business Management Sekolah High/Scope Indonesia (SHI), di Jakarta, Kamis (14/1/2010)

Untuk itu, pada Open House:"Changing, So Why Choose a School That Hasn't Changed?" di SHI TB Simatupang pada 23 Januari 2010 dan beberapa cabang SHI lainnya di Indonesia, SHI ingin mengubah pandangan paradigma lama tentang pendidikan di mata orang tua siswa.

"Kini saatnya pendidikan Indonesia meninggalkan paradigma lama yang memandang pendidikan di sekolah hanya dari ukuran akademik, sementara nonakademik selalu dibelakangkan," ujarnya.

Upie menambahkan, pembuat kebijakan, guru, serta orangtua murid sering lupa bahwa belajar di sekolah bukan semata untuk mendapatkan nilai dan prestasi akademik. "Maka, carilah sekolah yang bisa membuat anak-anak didik bisa mengaplikasikan semua pelajaran yang diterimanya di sekolah," ujar Upie.

Real Life

Apakah sekolah dibangun hanya sebagai gedung dengan kursi dan meja teratur, tempat anak-anak didik dijejali beragam kurikulum yang begitu berat dan kadang melebihi daya serapnya sebagai seorang anak? Apa artinya ke sekolah, untuk belajar atau dinilai?

Sekolah harus mampu membaca, menemukan, dan menggali kemampuan-kemampuan anak didik sesuai perkembangan usia dan kemampuannya. Karena, tujuan sekolah adalah menjadikan belajar sebagai sebuah proses seumur hidup, sebagai bekal anak didik menghadapi masa depannya, bukan nilai-nilai dan prestasi akademik semata. 

"Untuk itu, kurikulum SHI sangat menekankan pendekatan-pendekatan real life pada semua mata pelajaran yang diberikan kepada anak didiknya," ujar Upie.

Para siswa SMA, misalnya, dikenakan aturan wajib magang selama dua (2) semester atau 1 tahun di sebuah perusahaan. Selain itu, ada juga Community Service, yang mewajibkan siswa melakukan pelayanan publik ke panti-panti asuhan. Sementara itu, Student Service akan mengharuskan siswa menjadi asisten guru di kelas milik adik-adik di bawahnya, baik itu SD, SMP, maupun SMA.  

Business Day

Entreprenuership di SHI menjadi semacam benang merah yang ikut menopang kekuatan kurikulum pendidikan, mulai prasekolah hingga SMA. Salah satu pendekatan praksis yang dilakukan oleh SHI ini adalah dengan menghadirkan program Business Day.

Upie menuturkan, untuk peserta didik kelas I SD, konsep program tersebut diterjemahkan dalam bentuk kegiatan jual-beli. Di tingkat SMP, siswa diberi kesempatan magang di sebuah UKM tertentu, kemudian hasilnya dipresentasikan. Sementara kakak-kakaknya di tingkat SMA, siswa diharuskan menjual proposal bisnis ke orang tua siswa. 

"Akhirnya terjadi integrasi dari beberapa mata pelajaran tertentu, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia dan Inggris, studi sosial, serta ekonomi," kata Upie.

Upie mengatakan, apa yang akan dilakukan oleh pihak SHI saat ini adalah mengubah paradigma lama pendidikan di mata orang tua siswa, bahwa pendidikan selalu diukur dengan kecakapan akademik, sebaliknya nonakademik dilupakan.

"Kami ingin anak-anak didik kami di SHI berkembang secara utuh mulai prasekolah hingga SMA dengan proses belajar yang aktif dan kreatif, karena kami ingin intelektualitas mereka kelak menuju pada creative work, bukan routine work," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau