BANJARBARU, KOMPAS.com - Pencarian para korban terhambat gelombang yang masih setinggi 5 meter dua hari ini. Tujuh awak kapal yang belum ditemukan, antara lain, adalah M Aslan (nakhoda), Asnan (mualim I), Suhadi (mesin), Sugeng dan Sopian (juru mudi), Siswanto (juru minyak), dan Ahmad Suprianto (juru masak). Kepala Subseksi Operasi Kantor Search and Rescue (SAR) Kalimantan Selatan GT Syaiful Bachri di Banjarbaru, Kamis, mengatakan, upaya pencarian belum membuahkan hasil. Pencarian korban kemarin dilakukan tim gabungan dari SAR Kalsel, Kepolisian Air dan Udara Polda Kalsel, Administratur Pelabuhan (Adpel) Batakan, dan masyarakat. Namun, mereka bergegas kembali ke darat karena cuaca buruk. ”Gelombang tinggi sehingga kapal pencari tidak bisa melakukan manuver. Pencarian selanjutnya menunggu perkembangan cuaca baik,” ujar Syaiful. Kapal Yositina II diduga tenggelam saat menarik ponton kosong dari daerah Asamasam menuju Banjarmasin. Petugas radio pantai menerima kontak terakhir dengan kapal pada koordinat 04:15:75 Lintang Selatan dan 114:38:25 Bujur Timur. Saat peristiwa terjadi, kondisi cuaca di daerah itu sangat buruk. Menurut Edy Sumardi, saat itu, selain hujan lebat, angin kencang dan petir menyambar- nyambar. Ketinggian gelombang laut yang dalam kondisi normal hanya 1-2 meningkat menjadi sekitar 5 meter. Sepanjang Kamis sore cuaca di lokasi kembali memburuk. Hujan diiringi angin terjadi sejak pukul 16.00. Kepolisian dan tim pencari bertahan di Pantai Batakan. Gelombang tinggi di Selat Bangka juga menyebabkan pelayaran kapal cepat rute Palembang (Sumatera Selatan) ke Bangka (Kepulauan Bangka Belitung) pada siang hari dihentikan sementara sejak Rabu lalu. Gelombang tinggi diperkirakan hingga Sabtu (16/1). Manajer Pemasaran PT Pelayaran Sakti Inti Makmur yang mengelola kapal cepat Express Bahari, Stephanus Budyanto, Kamis, mengungkapkan, pelayaran yang dihentikan adalah pelayaran pukul 12.00 dari Palembang ke Bangka. Sementara pelayaran pukul 07.00 dari Palembang ke Bangka tetap berjalan normal. Di Jawa Timur, rute Gresik ke Pulau Bawean tetap belum dapat dilayani kapal hingga Rabu (20/1). Tanpa pelayaran, dikhawatirkan harga barang kebutuhan pokok melonjak di Pulau Kepala Seksi Penjagaan dan Penyelamatan Adpel Gresik Agus Suliarto menjelaskan, larangan berlayar untuk kapal barang dan kapal penumpang dikeluarkan demi keselamatan pelayaran. Sementara itu, ketinggian gelombang perairan Bawean dan Masalembu mencapai 6 meter. Adpel Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Cholik Kirom, melarang kapal berbobot mati di bawah 500 gross ton (GT) untuk berlayar. ”Kami menginstruksikan kepada para nakhoda kapal berbobot di bawah 500 GT untuk tak berlayar,” katanya, Kamis. Cuaca buruk yang terus terjadi juga menyebabkan penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) di Nusa Tenggara Timur terganggu, terutama untuk warga di pulau-pulau terpencil. Sejak awal Januari cuaca di laut belum bersahabat. Kepala Bidang Pelayanan Publik Badan Urusan Logistik Divisi Regional NTT Bambang Utoyo di Kupang, Kamis, membenarkan, sejumlah pulau kecil sulit mendapatkan kiriman raskin. Di Kota Cirebon, Jawa Barat, puluhan kapal ikan berbobot kurang dari 60 GT dari berbagai daerah sejak pekan lalu terpaksa berlindung di Pelabuhan Perikanan Kejawanan. Ombak di Kapal-kapal itu kini memenuhi jalur parkir pelabuhan perikanan yang biasanya sepi. Sebagian menggunakan saat paceklik seperti ini untuk memperbaiki kapal atau membongkar ikan. Cuaca buruk dan ombak besar di Laut Jawa juga menyebabkan sekitar 100 kapal nelayan asal Tegal, Jawa Tengah, yang sedang melaut terpaksa berlindung ke pulau-pulau terdekat. Selain itu, ratusan kapal lain yang hendak berangkat ke laut terpaksa membatalkan keberangkatan mereka.