7 Awak Kapal Yositina II Hilang

Kompas.com - 15/01/2010, 06:34 WIB

BANJARBARU, KOMPAS.com - Tujuh awak dan kapal tugboat Yositina II yang hilang dua hari lalu di perairan Tanjung Selatan, Kecamatan Penyipatan, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, hingga Kamis (14/1) petang belum ditemukan. Kapal itu diduga dihantam gelombang dan angin.

Pencarian para korban terhambat gelombang yang masih setinggi 5 meter dua hari ini. Tujuh awak kapal yang belum ditemukan, antara lain, adalah M Aslan (nakhoda), Asnan (mualim I), Suhadi (mesin), Sugeng dan Sopian (juru mudi), Siswanto (juru minyak), dan Ahmad Suprianto (juru masak).

Kepala Subseksi Operasi Kantor Search and Rescue (SAR) Kalimantan Selatan GT Syaiful Bachri di Banjarbaru, Kamis, mengatakan, upaya pencarian belum membuahkan hasil. Informasi yang sama dikemukakan Kepala Kepolisian Sektor Panyipatan Inspektur Satu Edy Sumardi.

Pencarian korban kemarin dilakukan tim gabungan dari SAR Kalsel, Kepolisian Air dan Udara Polda Kalsel, Administratur Pelabuhan (Adpel) Batakan, dan masyarakat. Namun, mereka bergegas kembali ke darat karena cuaca buruk.

”Gelombang tinggi sehingga kapal pencari tidak bisa melakukan manuver. Pencarian selanjutnya menunggu perkembangan cuaca baik,” ujar Syaiful.

Kapal Yositina II diduga tenggelam saat menarik ponton kosong dari daerah Asamasam menuju Banjarmasin. Petugas radio pantai menerima kontak terakhir dengan kapal pada koordinat 04:15:75 Lintang Selatan dan 114:38:25 Bujur Timur. Saat peristiwa terjadi, kondisi cuaca di daerah itu sangat buruk.

Menurut Edy Sumardi, saat itu, selain hujan lebat, angin kencang dan petir menyambar- nyambar. Ketinggian gelombang laut yang dalam kondisi normal hanya 1-2 meningkat menjadi sekitar 5 meter.

Sepanjang Kamis sore cuaca di lokasi kembali memburuk. Hujan diiringi angin terjadi sejak pukul 16.00. Kepolisian dan tim pencari bertahan di Pantai Batakan.

Dihentikan

Gelombang tinggi di Selat Bangka juga menyebabkan pelayaran kapal cepat rute Palembang (Sumatera Selatan) ke Bangka (Kepulauan Bangka Belitung) pada siang hari dihentikan sementara sejak Rabu lalu. Gelombang tinggi diperkirakan hingga Sabtu (16/1).

Manajer Pemasaran PT Pelayaran Sakti Inti Makmur yang mengelola kapal cepat Express Bahari, Stephanus Budyanto, Kamis, mengungkapkan, pelayaran yang dihentikan adalah pelayaran pukul 12.00 dari Palembang ke Bangka. Sementara pelayaran pukul 07.00 dari Palembang ke Bangka tetap berjalan normal.

Di Jawa Timur, rute Gresik ke Pulau Bawean tetap belum dapat dilayani kapal hingga Rabu (20/1). Tanpa pelayaran, dikhawatirkan harga barang kebutuhan pokok melonjak di Pulau Bawean.

Kepala Seksi Penjagaan dan Penyelamatan Adpel Gresik Agus Suliarto menjelaskan, larangan berlayar untuk kapal barang dan kapal penumpang dikeluarkan demi keselamatan pelayaran.

Sementara itu, ketinggian gelombang perairan Bawean dan Masalembu mencapai 6 meter. Adpel Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Cholik Kirom, melarang kapal berbobot mati di bawah 500 gross ton (GT) untuk berlayar. ”Kami menginstruksikan kepada para nakhoda kapal berbobot di bawah 500 GT untuk tak berlayar,” katanya, Kamis.

Cuaca buruk yang terus terjadi juga menyebabkan penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) di Nusa Tenggara Timur terganggu, terutama untuk warga di pulau-pulau terpencil. Sejak awal Januari cuaca di laut belum bersahabat.

Kepala Bidang Pelayanan Publik Badan Urusan Logistik Divisi Regional NTT Bambang Utoyo di Kupang, Kamis, membenarkan, sejumlah pulau kecil sulit mendapatkan kiriman raskin.

Di Kota Cirebon, Jawa Barat, puluhan kapal ikan berbobot kurang dari 60 GT dari berbagai daerah sejak pekan lalu terpaksa berlindung di Pelabuhan Perikanan Kejawanan. Ombak di Laut Jawa yang setinggi 3-4 meter membuat mereka tak bisa melaut dalam sepekan ini.

Kapal-kapal itu kini memenuhi jalur parkir pelabuhan perikanan yang biasanya sepi. Sebagian menggunakan saat paceklik seperti ini untuk memperbaiki kapal atau membongkar ikan.

Cuaca buruk dan ombak besar di Laut Jawa juga menyebabkan sekitar 100 kapal nelayan asal Tegal, Jawa Tengah, yang sedang melaut terpaksa berlindung ke pulau-pulau terdekat. Selain itu, ratusan kapal lain yang hendak berangkat ke laut terpaksa membatalkan keberangkatan mereka.(WER/FUL/NIT/ABK/ ACI/WAD/KOR/WIE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau