Kompak Desak Pansus Konfrontasikan Kalla-Sri Mulyani-Boediono

Kompas.com - 15/01/2010, 11:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selain mendesak Pansus Hak Angket Pengusutan Kasus Bank Century DPR untuk mengusut pernyataan tertipunya Menkeu Sri Mulyani, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) juga mendesak Pansus untuk mengonfrontasikan keterangan Sri Mulyani dengan mantan Wapres Jusuf Kalla dan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono dalam satu forum pemeriksaan.

Hal ini disampaikan dalam keterangan pers di Gedung DPR, Jumat (15/1/2010). "Pansus harus mengonfrontir ketiganya sesegera mungkin. Kalau boleh, jangan sampai Februarilah, terlalu lama," ujar anggota Kompak, Effendy Gazali.

Sebelumnya, anggota Kompak, Fadjroel Rahman, mengatakan, ketiganya harus ditampilkan bersamaan terkait ada atau tidaknya laporan Sri Mulyani dan Boediono soal keputusan dan eksekusi bail out kepada Kalla yang waktu itu menjabat sebagai presiden ad interim.

Pansus juga diminta mengonfirmasi keterangan Kalla yang menyebutkan Sri Mulyani pernah mengaku kepadanya bahwa dirinya merasa tertipu dengan data BI saat bail out dikucurkan. Keterangan Boediono sangat diperlukan untuk mengonfirmasi keduanya, termasuk penolakan yang dilakukannya ketika Kalla memerintahkannya untuk melaporkan pemegang saham pengendali Bank Century, Robert Tantular, yang jelas-jelas sudah melakukan tindak pidana perbankan. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau