Ketua DPR Bantah Presiden Intervensi Pansus Century

Kompas.com - 15/01/2010, 17:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPR Marzuki Alie membantah pernyataan yang menyebutkan keprihatinan Presiden SBY dengan fenomena di Pansus Angket Bank Century merupakan bentuk intervensi terhadap kinerja panitia yang tengah mengusut kasus dana talangan triliunan rupiah itu. Ia menekankan, Pansus harus mengedepankan etika dalam memperlakukan para saksi yang diundang untuk memberikan keterangan. 

"Presiden prihatin jalannya Pansus dalam meminta keterangan pada saksi yang tidak proporsional. Pernyataan ini dikomentari sejumlah anggota Pansus, seolah Presiden melakukan intervensi. Saya juga menyaksikan bagaimana Pansus berjalan. Dan harus ada yang diperbaiki," kata politisi Partai Demokrat ini dalam jumpa pers di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (15/1/2010).

Meski meluruskan pemahaman tentang pernyataan Presiden, Marzuki menyatakan berbicara dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPR. "Saya kan mengawasi. Pansus itu tidak ada yang mengawal," ujarnya.

Dia mengungkapkan, hal yang dirasa mengganggu adalah saat berlangsung tanya jawab antara anggota Pansus dan saksi yang dihadirkan. Sering kali, menurut Marzuki, saksi tak diberikan kesempatan menjawab.

"Kalau mau dipaksa menjawab ya atau tidak, sulit. Kan ada jawaban yang harus diberi penjelasan. Pansus mau cari keterangan atau penjelasan? Setiap mengajukan pertanyaan, ketika dijawab, langsung dipotong. Biarkan saksi menjawab sesuai yang dia ketahui," kata mantan Sekjen Partai Demokrat ini.

Menurutnya, orang yang dimintai keterangan dan yang meminta keterangan memiliki status yang sejajar. "Kalau sudah mengundang tamu, ya dihormatilah," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau