Gubernur Baru Tibet Tetap Pensiunan Tentara

Kompas.com - 15/01/2010, 18:16 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - China, Jumat (15/1/2010), mengangkat gubernur baru Tibet yang merupakan seorang veteran militer, Padma Choling. Sosok berusia 58 tahun itu berikrar akan menjamin stabilitas di wilayah Himalaya tersebut, dua tahun  setelah kerusuhan massa  yang memicu tindakan keras keamanan.
    
Choling, seorang etnik Tibet dan veteran  Tentara Pembebasan Rakyat, diangkat untuk menggantikan Qiangba Puncog, yang mengundurkan diri awal pekan ini, kata kantor berita Xinhua.
    
Qiangba Puncog -- yang bertanggung jawab atas tindakan keras pemerintah terhadap separatisme etnik di wilayah itu, yang dimulai setelah kerusuhan anti-China di Lhasa Maret 2008 -- diangkat menjadi ketua parlemen wilayah itu, kata Xinhua. "Stabilitas adalah sangat penting," kata Padma Choling yang dikutip Xinhua ketika menerima jabatan barunya.
    
"Kami akan menentang keras semua usaha  pemisahan diri, menjaga persatuan  dan keamanan nasional, dan mempertahankan persatuan di antara  berbagai kelompok etnik di Tibet," imbuhnya.
    
Padma Choling awal bulan ini diangkat menjadi wakil sekretaris Partai Komunis Tibet, jabatan tertinggi kedua di wilayah itu. "Mengangkat mantan perwira militer sebagai pemimpin boneka  Tibet...memberi kesan bahwa China sekarang menganggap Tibet sebagai wilayah yag berada dalam kendali militer," kata Robbie Barnett, seorang pakar terkenal mengenai Tibet di Universitas Kolumbia kepada AFP dalam satu pesan elektonik.
    
China mengatakan 21 orang dibunuh oleh "para perusuh"  tahun 2008 dan pasukan keamanan membunuh hanya seorang "gerilyawan".
    
Tetapi pemerintah Tibet di pengasingan, yang dipimpin Dalai Lama, mengaku bahwa lebih dari 200 orang tewas dan sekitar 1.000 lainnya cidera dalam kerusuhan dan  tindakan keras keamanan itu.
    
Paling tidak 5.700 orang ditahan selama periode itu, kata pemerintah, dengan banyak biarawan Buddha  dihukum penjara yang lama.
    
Barnett mengatakan tingkat kehadiran pasukan  tetap tinggi di  Lhasa, 21 bulan setelah kerusuhan-kerusuhan itu.
    
Pasukan China menyerbu Tibet tahun 1950 dan secara resmi menganeksasi wilayah itu setahun kemudian. Dalai Lama, yang meninggalkan tanah kelahirannya setelah pemberontakan tahun 1959 berulang-ulang  menuduh Beijing  melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang luas.
    
Beijing membalas bahwa Dalai Lama mengusahakan kemerdekaan  Tibet dan  menggerakkan kekuatan separatis di wilayah itu -- tuduhan-tuduhan yang dibantah oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian  tahun 1989.
    
Sekretaris Partai Komunis Wilayah itu, Zhang Qingli, juga mantan pejabat militer diperkirakan akan tetap pada jabatannya  dalam perombakan  yang sedang dilakukan.
    
Walaupun Tibet adalah satu wilayah otonomi, pemimpin wilayah itu selalu adalah etnik Han China.
    
Tindakan keras yang sedang dilakukan juga meluas ke wilayah-wilayah yang dihuni etnik Tibet seperti Provinsi Sichuan  tempat tokoh Buddha yang dihormati Phurbu Tsering  Rinpoche dihukum  delapan tahun penjara  karena secara tidak sah memiliki amunisi dan korupsi, Desember. Biarawan itu membantah semua tuduhan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau