ROCHESTER, KOMPAS.com - Eastman Kodak Co (Kodak) menggugat Apple dan Research In Motion (RIM) atas penggunaan paten teknologi miliknya secara sewenang-wenang. iPhone buatan Apple dan BlackBerry buatan RIM dituding menggunakan teknologi untuk melihat preview hasil foto di kamera digital yang hak ciptanya dikuasai Kodak. Apple juga dituding menggunakan proses komputasi tertentu yang sudah dipatenkan Kodak.
Karenanya, Kodak meminta pihak berwenang yang mengatur sengketa paten di AS untuk menghentikan impor komponen yang melanggar hak paten kepada kedua perusahaan. Kodak juga menggugat ganti rugi dengan besar yang tak disebutkan. Sebelumnya, Kodak juga sempat bersengketa dengan Samsung pada paten sejenis. Namun, pada Desember tahun lalu Samsung akhirnya setuju membayar royalti.
"Kami sudah berdiskusi selama bertahun-tahun dengan kedua perusahaan dalam upaya menyelesaikan masalah ini secara damai, dan kita belum mencapai kesepakatan yang memuaskan," kata Laura Quatela, kepala bagian hak cipta Kodak seperti dilansir AP, Kamis (14/1/2010).
Ia mengatakan kepentingan utama Kodak pada dasarnya tidak ingin mengganggu ketersediaan produk kedua vendor tersebut. Namun, Kodak meminta kompensasi yang adil untuk penggunaan teknologinya tersebut.
"Kodak memiliki sejarah panjang dalam inovasi pencitraan digital dan kami telah menginvestasikan ratusan juta dollar (AS) untuk menciptakan portofolio paten terbaik di industri ini," ujar Quatela. Kodak juga sudah menghabiskan investasi 3,4 miliar dollar AS untuk mentransformasikan bisnisnya dari kertas film ke kamera digital dan perangkat digital imaging lainnya.
Kodak, yang berbasis di Rochester, New York, AS saat ini menguasai lebih dari 1.000 paten pencitraan digital dan hampir semua kamera digital mengandalkan teknologinya. Sekitar 30 perusahaan kamera mernggunakan lisensi teknologi Kodak termasuk para vendor ponsel seperti LG, Motorola, Nokia, dan Sony Ericsson. Semuanya membayar royalti kepada Kodak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang