China-Google Masih Alot

Kompas.com - 16/01/2010, 03:15 WIB

Beijing, Jumat - China menyatakan ancaman Google untuk hengkang dari China tak akan memengaruhi hubungan dagang China-Amerika Serikat. Namun, China terus mendesak Google agar menuruti hukum yang berlaku di China setelah Google menyatakan tidak akan tunduk pada badan sensor yang selama ini gencar menyensor.

Perusahaan AS yang menggunakan moto tidak resmi ”Jangan Jahat” ini menyatakan dapat menghentikan operasi mesin pencari di China dan mungkin akan menutup kantornya di pasar terbesar dunia menurut jumlah pengguna internet tersebut.

”Apa pun keputusan dari Google, hal itu tidak akan memengaruhi hubungan dagang dan ekonomi antara China dan AS. Kedua negara memiliki saluran hubungan komunikasi beragam. Kami yakin akan ada perkembangan hubungan yang sehat antara China dan AS,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan, Yao Jian, di Beijing, Jumat (15/1). Belakangan, AS dan China terus bersaing dalam perdagangan. Banjir ekspor China ke AS membuat defisit perdagangan AS semakin dalam.

Pada reaksi perdana Beijing, Kamis lalu, seorang juru bicara dari Kementerian Luar Negeri menegaskan, internet China terbuka, tetapi dia juga membela sistem sensor dan mengatakan bahwa perusahaan asing harus tunduk pada hukum. Yao sekali lagi menegaskan pernyataan itu, dan mengatakan bahwa perusahaan asing yang beroperasi di China harus menghormati hukum, kepentingan umum, kultur, serta tradisi di negara tempat mereka beroperasi. Selain itu, mereka juga harus turut ambil bagian dalam tanggung jawab sosial.

”China tengah beralih dari ekonomi terencana menjadi ekonomi pasar sosialis. Stabilitas dan pembangunan merupakan prioritas utama kami pada tahapan sekarang ini. Google harus membuat pilihan tepat mengenai masa depannya. Pembangunan China akan membawa keuntungan bagi negara dan perusahaan yang beroperasi di situ,” ujar Yao lagi.

AS mendukung keputusan Google yang tidak lagi sepaham dengan sistem sensor China. Pemerintah AS menyatakan, isu itu berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan arus informasi. Washington meminta penjelasan dari Beijing.

Washington telah lama khawatir tentang program mata-mata cyber.

Berkembang pesat

Populasi pengguna internet di China merupakan nomor satu di dunia. Naik hampir 30 persen tahun lalu menjadi 384 juta orang. Kenaikan itu terjadi karena melonjaknya orang yang berselancar di dunia maya dengan telepon seluler, naik dua kali lipat.

Pertumbuhan sebanyak 28,9 persen tahun lalu memang di bawah pertumbuhan sebesar 41 persen pada tahun 2008. Akan tetapi, tetap saja terjadi pertumbuhan pengguna internet yang sangat cepat di China walaupun pemerintah melakukan sensor.

Jumlah orang yang online melalui telepon seluler naik 106 persen menjadi 233 juta. Kenaikan tersebut dimotori oleh keluarnya jasa 3G yang mendukung produk video dan produk web lainnya. Perdagangan online pada tahun 2009 total senilai 250 miliar yuan atau 37 miliar dollar AS.

Walaupun Google sedang bertarung dengan China, rivalnya, Microsoft, mengatakan tidak merencanakan menarik diri dari pasar China. ”Saya tidak mengerti bagaimana hal itu (keluar dari China) membantu kami, membantu China,” ujar Steve Ballmer, CEO dari produsen perangkat lunak terbesar di dunia itu.

Microsoft berharap pada mesin pencarinya, Bing, di China. Bing hanya memiliki pangsa pasar kecil saja di China, tetapi akan mendapat banyak keuntungan jika Google keluar dari China. Pesaing berat Bing lainnya adalah Baidu. (AP/AFP/Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau