Hipmi: Hadapi Produk China, Perkuat Empat Sektor

Kompas.com - 16/01/2010, 11:06 WIB

PALU, KOMPAS.com -  Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, untuk menghadapi gempuran pasar industri produk China yang saat ini telah membanjiri pasar domestik diperlukan penguatan sektor perkebunan dan pertanian.

Erwin mengakui, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia pasca ditandatanganinya perjanjian perdagangan Indonesia-China saat ini adalah membanjirnya produk industri dari negara itu.

"Ada empat hal yang diperkuat untuk menghadapi produk dari China, yakni pertambangan, perkebunan/pertanian, property dan infrastruktur," kata Erwin Aksa, saat menghadiri Rapat Kerja HIPMI Sulteng dan Seminar Daerah Arah dan Kebijakan Perkebunan Sulawesi Tengah, di Palu, Sabtu (16/1/2010).

Tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Dirjen Perkebunan Ahmad Manggabarani, Pengusaha Sawit Sulteng Murad Husain, Dekan Fakultas Pertanian Untad Prof Dr Ir Basir Chio, M.Si, dan Dekan Fakultas Ekonomi Untad Prof Dr Patta Tope SE.

Erwin mengatakan, empat sektor itu perlu diperhatikan oleh pengusaha dalam negeri karena Indonesia memiliki sumber daya yang cukup besar di sektor tersebut yang tidak dimiliki China.

Sektor perkebunan misalnya, Indonesia memiliki luas lahan yang besar. Hanya saja kata Erwin, saat ini tidak ada lagi kapling lahan dalam jumlah yang luas. Lahan dalam jumlah besar telah dikapling oleh pengusaha-pengusaha besar.

Dia mengatakan, sektor perkebunan butuh keterlibatan pengusaha lokal atau daerah karena pengusaha luar negeri kurang berminat dengan lahan yang kecil.

"Investor luar negeri tidak tertarik dengan lahan yang kecil. Mereka butuh lahan ratusan ribu hektare untuk mengembangkan investasi perkebunan. Di sinilah perlunya keterlibatan pengusaha lokal," kata Erwin.

Menurut Erwin, pemerintah daerah perlu fokus pada pembangunan perkebunan, sebab untuk bersaing di sektor industri tekstil atau alas kaki Indonesia sudah ketinggalan. Industri tersebut sudah dikuasai China. Industri tekstil di negara itu tumbuh 10 kali lipat dari industri dalam negeri. "Perkebunan rakyat perlu dikembangkan dengan memanfaatkan pengusaha-pengusaha di daerah," kata Erwin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau