PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com — Para korban gempa di Haiti yang saat ini dihadapkan pada bencana kelaparan berusaha bertahan hidup, di antaranya dengan menjarah suplai bantuan logistik berupa makanan dan air minum. Kondisi ini terlihat saat beberapa negara donor berupaya keras meningkatkan usaha penyelamatan terhadap korban gempa bumi yang kritis.
Sejauh ini, lebih dari 20.000 jenazah korban gempa bumi dikumpulkan oleh Pemerintah Haiti. Perdana Menteri Haiti Jean-Max Bellerive menyebutkan, kemungkinan jumlah korban tewas 100.000 jiwa sebagai angka minimum.
Petugas penyelamat dan kemanusiaan asing berupaya memberikan pertolongan kepada korban yang sangat membutuhkan bantuan, termasuk mereka yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Sementara petugas lainnya berupaya menangani jenazah yang belum terhitung jumlahnya dan berserakan di jalanan.
Sementara itu, situasi penuh ketegangan terus mewarnai aksi penjarahan bantuan logistik untuk korban gempa. Sejumlah anak muda yang dipersenjatai dengan parang turun ke jalan-jalan di Port-au-Prince.
Mereka adalah bagian dari sejumlah anak muda yang mempersenjatai diri dengan senjata tajam untuk memperebutkan bantuan logistik yang dijarah dari ibu kota Haiti tersebut. Ini setidaknya menunjukkan kondisi keamanan semakin tidak stabil pascaguncangan gempa pada 12 Januari lalu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang