Haiti Terus Ditumpahi Mayat dan Genderang Kekerasan

Kompas.com - 17/01/2010, 06:02 WIB

PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com — Para korban gempa di Haiti yang saat ini dihadapkan pada bencana kelaparan berusaha bertahan hidup, di antaranya dengan menjarah suplai bantuan logistik berupa makanan dan air minum. Kondisi ini terlihat saat beberapa negara donor berupaya keras meningkatkan usaha penyelamatan terhadap korban gempa bumi yang kritis.

Sejauh ini, lebih dari 20.000 jenazah korban gempa bumi dikumpulkan oleh Pemerintah Haiti. Perdana Menteri Haiti Jean-Max Bellerive menyebutkan, kemungkinan jumlah korban tewas 100.000 jiwa sebagai angka minimum.

Petugas penyelamat dan kemanusiaan asing berupaya memberikan pertolongan kepada korban yang sangat membutuhkan bantuan, termasuk mereka yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Sementara petugas lainnya berupaya menangani jenazah yang belum terhitung jumlahnya dan berserakan di jalanan.

Sementara itu, situasi penuh ketegangan terus mewarnai aksi penjarahan bantuan logistik untuk korban gempa. Sejumlah anak muda yang dipersenjatai dengan parang turun ke jalan-jalan di Port-au-Prince.

Mereka adalah bagian dari sejumlah anak muda yang mempersenjatai diri dengan senjata tajam untuk memperebutkan bantuan logistik yang dijarah dari ibu kota Haiti tersebut. Ini setidaknya menunjukkan kondisi keamanan semakin tidak stabil pascaguncangan gempa pada 12 Januari lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau