PORT-AU-PRINCE Jumat malam atau Sabtu pagi WIB, kota berpenduduk dua juta orang itu menjadi kota mati. Puluhan ribu korban tewas masih terkubur di bawah puing-puing bangunan dan tergeletak di sisi jalan sehingga menebarkan bau anyir ke seluruh sudut kota. Di samping itu, aksi perampokan, penjarahan, dan tindak kriminal lainnya, seperti penodongan dan perampasan, meningkat seiring dengan minimnya bantuan pangan. Kekhawatiran warga meningkat setelah penjara yang menampung 4.000 narapidana roboh dan penghuninya berkeliaran ke mana-mana. Warga sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka. ”Kami harus pergi tempat mana pun. Terpenting, kami bisa menjauhi kota ini,” kata Fils Saint Talulum yang berdiri di terminal bus Keluarga Fils Saint Talulum hanya satu di antara ribuan warga lain yang juga melakukan hal yang sama. Warga berduyun-duyun meninggalkan Port-au-Prince, yang mereka juluki ”neraka”. Bosan dan lelah tidur di jalanan di alam terbuka, takut dirampok penjahat bengis, dan takut gempa susulan menjadi alasan utama warga untuk eksodus besar-besaran ke daerah yang tidak parah terkena gempa. ”Udara di jalanan di seluruh pelosok kota tercemar bau anyir yang keras. Belum ada bantuan apa pun dan anak-anak kami tidak bisa hidup seperti binatang,” kata Fils Saint Talulum. Sama seperti ribuan warga lain, keluarga Talulum mengungsi ke Fodernerg, sebuah kota kecil sejauh tiga jam naik bus dari Port-au-Prince. Mereka membeli tiket sekitar 400 gourde atau ”Tetapi, tarif itu relatif Di Fodernerg, kota kecil Korban tewas akibat gempat dahsyat terus meningkat. Menteri Dalam Negeri Paul Antoine Bien-Aime menyebutkan, petugas sudah menemukan 50.000 mayat. ”Kami memperkirakan jumlah korban tewas bisa bertambah hingga 100.000 dan 200.000 orang,” katanya. Sekretaris Negara Bidang Keselamatan Publik Aramick Louis menyebutkan, 40.000 mayat telah dikubur secara massal. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang diungkap Presiden Haiti René Préval sehari sebelumnya bahwa ada 7.000 mayat telah dikubur di pekuburan massal. Korban tewas itu dipastikan akan terus bertambah karena masih banyak warga yang melaporkan kehilangan anggotanya akibat tertimbun reruntuhan bangunan dan belum dievakuasi. Ratusan gedung tinggi dan bangunan besar yang runtuh belum bisa dibersihkan karena minimnya alat berat serta masih sedikit relawan. Bantuan berupa tenda, makanan instan, pakaian, dan obat-obatan dari dunia internasional mulai berdatangan. Namun, bantuan tertumpuk di bandara, tidak bisa disalurkan karena jaringan jalan ke kota tidak bisa dilalui akibat rusak parah. Ribuan warga kelaparan dan kehausan akibat ketiadaan makanan dan air bersih. Salah seorang di antara ribuan korban itu adalah Berley Marie Lourde (50), yang sudah tiga hari tidak makan. PBB yang akan memimpin misi kemanusiaan atas musibah Haiti ini bertekad segera menyalurkan bantuan, termasuk kemungkinan menyalurkan melalui helikopter. PBB menyediakan dana 560 juta dollar AS.(AFP/AP/REUTERS/CAL)