Haiti

Port-au-Prince Menjadi Kota Mati

Kompas.com - 17/01/2010, 06:20 WIB

PORT-AU-PRINCE — Ribuan warga Port-au-Prince, ibu kota Haiti, dalam tiga hari terakhir beramai-ramai meninggalkan kota yang luluh lantak oleh gempa berkekuatan 7,0 skala Richter, Selasa (12/1/2010) petang waktu setempat atau Rabu dini hari WIB, itu.

Jumat malam atau Sabtu pagi WIB, kota berpenduduk dua juta orang itu menjadi kota mati. Puluhan ribu korban tewas masih terkubur di bawah puing-puing bangunan dan tergeletak di sisi jalan sehingga menebarkan bau anyir ke seluruh sudut kota.

Di samping itu, aksi perampokan, penjarahan, dan tindak kriminal lainnya, seperti penodongan dan perampasan, meningkat seiring dengan minimnya bantuan pangan. Kekhawatiran warga meningkat setelah penjara yang menampung 4.000 narapidana roboh dan penghuninya berkeliaran ke mana-mana.

Warga sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka. ”Kami harus pergi tempat mana pun. Terpenting, kami bisa menjauhi kota ini,” kata Fils Saint Talulum yang berdiri di terminal bus bersama suami dan empat anaknya, menunggu bus yang akan membawa mereka keluar dari kota.

Keluarga Fils Saint Talulum hanya satu di antara ribuan warga lain yang juga melakukan hal yang sama. Warga berduyun-duyun meninggalkan Port-au-Prince, yang mereka juluki ”neraka”. Bosan dan lelah tidur di jalanan di alam terbuka, takut dirampok penjahat bengis, dan takut gempa susulan menjadi alasan utama warga untuk eksodus besar-besaran ke daerah yang tidak parah terkena gempa.

”Udara di jalanan di seluruh pelosok kota tercemar bau anyir yang keras. Belum ada bantuan apa pun dan anak-anak kami tidak bisa hidup seperti binatang,” kata Fils Saint Talulum.

Sama seperti ribuan warga lain, keluarga Talulum mengungsi ke Fodernerg, sebuah kota kecil sejauh tiga jam naik bus dari Port-au-Prince. Mereka membeli tiket sekitar 400 gourde atau 10 dollar AS per orang. Tarif itu naik dua kali lipat dari tarif normal.

”Tetapi, tarif itu relatif masih tepat untuk keluar dari neraka,” kata Aanoz Richard (40), tukang roti yang menjadi tunawisma setelah gempa. Ia marah karena tabungannya tidak cukup untuk membayar ongkos bus.

Di Fodernerg, kota kecil yang tingkat kerusakannya tidak separah di Port-au-Prince, warga berharap bisa menata kembali hidupnya. ”Kami ingin untuk segera membangun rumah di sana, tetapi yang menjadi masalah, bagaimana kami bisa mendapatkan uang?” tanya Fils Saint Talulum dengan wajah memelas.

Korban tewas

Korban tewas akibat gempat dahsyat terus meningkat. Menteri Dalam Negeri Paul Antoine Bien-Aime menyebutkan, petugas sudah menemukan 50.000 mayat. ”Kami memperkirakan jumlah korban tewas bisa bertambah hingga 100.000 dan 200.000 orang,” katanya.

Sekretaris Negara Bidang Keselamatan Publik Aramick Louis menyebutkan, 40.000 mayat telah dikubur secara massal. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang diungkap Presiden Haiti René Préval sehari sebelumnya bahwa ada 7.000 mayat telah dikubur di pekuburan massal.

Korban tewas itu dipastikan akan terus bertambah karena masih banyak warga yang melaporkan kehilangan anggotanya akibat tertimbun reruntuhan bangunan dan belum dievakuasi. Ratusan gedung tinggi dan bangunan besar yang runtuh belum bisa dibersihkan karena minimnya alat berat serta masih sedikit relawan.

Bantuan mengalir

Bantuan berupa tenda, makanan instan, pakaian, dan obat-obatan dari dunia internasional mulai berdatangan. Namun, bantuan tertumpuk di bandara, tidak bisa disalurkan karena jaringan jalan ke kota tidak bisa dilalui akibat rusak parah.

Ribuan warga kelaparan dan kehausan akibat ketiadaan makanan dan air bersih. Salah seorang di antara ribuan korban itu adalah Berley Marie Lourde (50), yang sudah tiga hari tidak makan.

PBB yang akan memimpin misi kemanusiaan atas musibah Haiti ini bertekad segera menyalurkan bantuan, termasuk kemungkinan menyalurkan melalui helikopter. PBB menyediakan dana 560 juta dollar AS.(AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau