Langkanya sarjana pendidikan yang mau menjadi guru bagi anak autis mendorong Asnizar (36) untuk mengabdikan diri secara total. Menjadi guru autis menjadi pilihan ideal.
Menurut Asnizar yang ditemui Kompas, Sabtu (16/1) di sekolah untuk anak autis Bina Autis Mandiri, latar belakang pendidikannya bukanlah pendidikan khusus anak autis. Dia adalah sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, bidang pendidikan umum.
”Saya memutuskan terjun ke pendidikan anak autis karena kalau bukan kita, siapa lagi yang mau mendidik anak autis. Jumlah guru ada banyak, tetapi sulit mencari guru yang mau mengajar anak autis,” kata Asnizar.
Ia menuturkan, pada awalnya tidak mudah baginya untuk memutuskan menjadi guru anak autis. Dia melakukan shalat istikharah agar mendapatkan petunjuk dari Allah, apakah pilihannya sudah benar.
”Akhirnya saya memutuskan menjadi guru anak autis. Asalkan ada kemauan, semuanya pasti bisa kita kerjakan,” ujarnya. Asnizar lalu meninggalkan Lhokseumawe untuk tinggal di Palembang sebagai guru anak autis.
Perempuan kelahiran Medan, 12 Februari 1973, itu mengungkapkan, dia bersama dr Muniyati kemudian mendirikan sekolah anak autis Bina Autis Mandiri di Palembang tahun 2003.
Untuk mempelajari tentang pendidikan anak autis, Asnizar mengikuti kursus terapi berbicara di Jakarta. Kursus tersebut membuatnya bisa berkomunikasi dengan anak-anak autis yang sulit berkomunikasi.
Saat pertama kali didirikan tahun 2003, sekolah tersebut baru memiliki tujuh guru, termasuk dirinya. Jumlah muridnya pun cuma enam orang. ”Waktu itu, Bina Autis Mandiri belum berbentuk sekolah dasar, tetapi hanya tempat terapi anak autis,” tuturnya.
Kini, sekolah tersebut memiliki 45 guru, bahkan telah mendidik sekitar 600 siswa autis dan siswa normal. Sekolah ini juga menerapkan kurikulum inklusif, yaitu anak autis dan anak normal belajar dalam satu kelas.
Menyeleksi calon guru untuk anak autis tidak gampang. Calon guru harus menjalani pelatihan selama tiga bulan. Jika yayasan merasa cocok, calon guru akan direkrut menjadi guru.
”Guru untuk anak autis harus sabar, memiliki dedikasi tinggi, mau kerja keras, serta harus sayang terhadap anak-anak. Latar belakang pendidikannya bisa bermacam-macam,” kata Asnizar.
Menurut Asnizar, yang sekarang menjadi Wakil Ketua Yayasan Bina Autis Mandiri, kebahagiaan bagi dirinya adalah menyaksikan anak autis yang tidak bisa berkomunikasi kemudian mampu berkomunikasi.
”Melihat anak autis mau bermain bersama anak autis yang lain itu membuat saya senang. Anak-anak ini saya anggap sebagai anak sendiri, tanpa mereka hidup menjadi hampa. Mereka membuat saya tertawa terus,” kata Asnizar.
Asnizar mengatakan, kepercayaan orangtua anak autis yang diberikan kepadanya juga menjadi kebanggaan. Artinya, para orangtua tersebut memberikan kepercayaan kepada Asnizar untuk mendidik anaknya.