ROMA, KOMPAS.com - Pelatih AS Roma Claudio Ranieri tak berniat melakukan kudeta terhadap Juventus. Jika Roma kini dapat menggeser Juve dari posisi ketiga klasemen, itu karena timnya mengejar posisi di Liga Champions.
Sikap Ranieri ini berbeda jauh dengan situasi yang ia alami saat ia didepak dari Turin akhir musim lalu. Pertengahan Mei 2009, pelatih berjuluk "The Tinkerman" itu diberhentikan dari jabatan pelatih pada saat "La Vecchia Signora" terancam keluar dari zona Liga Champions. Ranieri berontak dan berdalih bahwa kegagalan itu bukan karena kesalahannya.
Setelah beberapa bulan menganggur, sambil menunggu penyelesaian kontrak dengan Juve, Ranieri kemudian melatih Roma. Ia berhasil membenahi posisi "Il Lupi", yang sempat terpuruk sepeninggal Luciano Spalletti. Roma bahkan menohok Juve dan mengambil alih posisi mereka usai menang 3-0 atas Genoa, Minggu (17/1/2010).
"Saya tidak perlu balas dendam atas apa pun," kata Ranieri soal perasaannya terhadap Juve. "Saya tahu bahwa saya bekerja bagus di Juve dan kini saya di kota saya dengan klub yang selalu mendukung saya."
Di Roma, Ranieri mengutamakan permainan cantik. Kedatangan Luca Toni, yang mencetak dua gol ke gawang Genoa, melengkapi permainan yang ia maksudkan itu. Tujuannya satu, kembali masuk zona Eropa setelah musim ini gagal lolos ke Liga Champions.
"Saya harus bilang ketika saya mengambil alih (posisi pelatih) bahwa Roma semestinya bermain sepak bola cantik karena saat ini kami perlu fokus pada perubahan mental dan pendekatan sistem. Hal terpenting saat ini adalah kami mencapai Liga Champions," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang