Linda: Selama Produknya Halal, Tidak Perlu Fatwa Haram

Kompas.com - 18/01/2010, 22:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keputusan Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur (FMP3) yang mengharamkan rebonding, pengojek wanita serta foto pranikah (pre-wedding) menuai kritik di berbagai kalangan, termasuk Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar. Ia menilai bahwa selama memakai produk yang halal maka tidak perlu dikeluarkan fatwa haram.

"Selama memakai produk yang halal tidak perlu dibuat sebagai sesuatu yang haram," kata Linda Gumelar di sela-sela Rakor Bidang Kesejahteraan Rakyat di Kantor Menko Kesra, Jakarta, Senin (18/1/2010).

Menurut Linda, fatwa haram bagi perempuan yang menumpangi pengojek pria tidak boleh dipatenkan begitu saja. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan agama dan keyakinan dari yang melakukannya. Apalagi, perempuan yang menaiki pengojek pria lebih berkaitan dengan kenyamanan perempuan itu sendiri.

"Kalau kita sudah menyentuh, itu kan tentu masalah agama. Dan masalah agama tentu punya keyakinan masing-masing. Jangan terlalu dipatenkan seperti itu," katanya.

Dalam waktu dekat, Linda akan bertemu dengan jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berkoordinasi terkait masalah ini. (Persda Network/coz)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau