Partai politik

Dua Kubu PKB Bertemu 21 Januari

Kompas.com - 19/01/2010, 03:04 WIB

Surabaya, Kompas - Kedua kubu pengurus Partai Kebangkitan Bangsa segera bertemu untuk membahas formulasi perdamaian. Pertemuan akan dimulai dari tingkat dewan pengurus wilayah atau DPW. Untuk Jawa Timur, basis utama PKB, pertemuan direncanakan berlangsung 21 Januari.

Hal itu dikemukakan Ketua DPW PKB Jawa Timur hasil Muktamar Ancol yang menghasilkan kepemimpinan Muhaimin Iskandar, Imam Nachrawi, di Surabaya, Senin (18/1).

”Saya akan bertemu Pak Hasan (Hasan Aminuddin, Ketua DPW PKB Jatim hasil Muktamar Parung pendukung KH Abdurrahman Wahid) dan membahas soal perdamaian ini,” kata Imam.

Pertemuan itu diharapkan bisa menghasilkan formula terbaik untuk menyudahi konflik kedua kubu. ”Kami siap menerima semua pihak kembali ke PKB,” tuturnya.

Hasan Aminuddin menyatakan terbuka untuk berbicara dengan semua pihak. Bahkan, sejak beberapa waktu lalu pihaknya sudah menugasi 10 orang untuk berbicara dengan berbagai pihak terkait perdamaian PKB.

”Kami juga sudah berkunjung ke Nahdlatul Ulama (NU) dan meminta peran aktif untuk menyelesaikan partai yang secara resmi dibentuk NU ini. Kami juga menyerahkan kepada NU untuk memverifikasi surat keputusan kepengurusan yang sah,” ungkap Hasan.

Menanggapi perdamaian PKB itu, pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Kacung Marijan, menilai, NU memang fasilitator terbaik untuk perdamaian tersebut. Namun, tidak semua tokoh NU layak menjadi fasilitator. ”Harus ulama yang diterima semua pihak dan tidak terlibat politik praktis atau para ulama yang mendeklarasikan PKB,” kata Kacung.

Di Jakarta, mantan anggota Tim 5 Pengurus Besar NU, yang membidani lahirnya PKB pada 1998, Ahmad Bagdja, mengusulkan, penyelesaian struktur di tingkat kepengurusan PKB tingkat pusat harus diikuti penyelesaian struktur di tingkat bawah, yaitu kabupaten dan kota.

”Rentetan persoalan kultural juga harus dituntaskan, yaitu dengan kembali menyatukan para kiai dan pendukung yang selama ini terpecah belah akibat konflik PKB,” kata Bagdja. (raz/mzw)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau