Taliban Serbu Pusat Kota Kabul

Kompas.com - 19/01/2010, 04:24 WIB

Kabul, Senin - Gerilyawan bersenjata dan pelaku pengeboman bunuh diri Taliban, Senin (18/1), menyerbu jantung kota Kabul. Mereka meledakkan bom yang membakar dua pusat perbelanjaan, sebuah bioskop, dan sebagian gedung hotel berbintang lima di ibu kota Afganistan.

Sejumlah saksi mata ataupun pejabat Pemerintah Afganistan menjelaskan, serangan yang dilakukan sekitar 20 gerilyawan Taliban itu langsung disusul baku tembak menggunakan senapan berat selama sekitar tiga jam. Sedikitnya lima orang tewas dalam peristiwa itu, salah satunya seorang anak.

Kementerian Kesehatan Publik mengatakan, lima orang yang tewas itu terdiri dari seorang anak dan empat personel bersenjata, sedangkan 38 lainnya luka-luka.

Akan tetapi, juru bicara Kementerian Pertahanan, Mohammad Zahir Azimi, menjelaskan, empat ”teroris” juga tewas. Dua di antaranya meledakkan diri dan dua lainnya ditembak mati petugas keamanan.

Presiden Hamid Karzai mengatakan, situasi di ibu kota Afganistan itu bisa dikuasai kembali setelah beberapa jam pertempuran. ”Musuh-musuh rakyat Afgan melakukan serangkaian serangan hari ini mengakibatkan ketakutan dan teror kepada masyarakat.”

”Presiden mengecam keras serangan teroris ini, dan telah memerintahkan badan-badan keamanan untuk mengintensifkan keamanan di kota ini dan mengambil tindakan untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab atas serangan yang brutal dan tidak patriotik ini,” demikian pernyataan Presiden Afganistan.

Api dilaporkan masih membara di dua pusat perbelanjaan, sebuah bioskop, dan satu-satunya hotel bintang lima yang ada di Kabul, Hotel Serena.

Serbuan ke jantung Kabul itu merupakan serangan paling spektakuler yang dilakukan gerilyawan Taliban, yang sekaligus juga menunjukkan kenekatan dan taktisnya serangan mereka.

Serbuan mendadak

Serbuan mendadak gerilyawan Taliban itu dilakukan pada puncak jam sibuk ketika beberapa pengebom bunuh diri menyerbu gedung utama pemerintah dan beberapa bangunan komersial di sekitar Lapangan Pashtunistan.

Mereka meledakkan sejumlah bom sehingga asap hitam terlihat membubung ke angkasa.

Taliban mengatakan, 20 gerilyawan mereka terlibat dalam serangan itu, yang mereka katakan ditargetkan ke Istana Kepresidenan, kementerian kehakiman, kementerian pertambangan, dan gedung administrasi kepresidenan, yang semuanya berkumpul di pusat kota.

Ketika serangan dimulai di luar Istana Kepresidenan, Presiden Afganistan itu tengah berada di dalam, mengambil sumpah anggota baru kabinetnya. ”Saat kami melakukan upacara pengambilan sumpah, serangan teroris di bagian kota Kabul yang dekat dengan Istana Kepresidenan terjadi. Ini hanyalah satu dari banyaknya bahaya,” kata Karzai kepada para menterinya.

Dua pusat perbelanjaan yang terbakar adalah Mal Qari Sami di pusat kota, yang di dalamnya terdapat bioskop, dan lokasinya berdempetan dengan Hotel Serena. Sementara pusat perbelanjaan lainnya adalah Gulbahar Center, sekitar satu kilometer dari pusat kota Kabul.

Serangan itu merupakan tamparan di muka bagi inisiatif untuk membujuk gerilyawan Taliban berdamai, yang rencananya akan diumumkan Karzai pada sebuah konferensi internasional di London bulan ini.

Inisiatif itu merupakan sebuah bagian kunci dari strategi baru Presiden Amerika Serikat Barack Obama, yang mencakup juga pengiriman 30.000 tentara tambahan ke Afganistan.

Ketua Misi PBB di Afganistan Kai Eide mengecam serangan brutal itu, sekaligus khawatir atas rapuhnya keamanan di Kabul.

(AP/AFP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau