Bupati Melawi Teken Dokumen KPU Sebelum Meninggal

Kompas.com - 19/01/2010, 16:19 WIB

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi

PONTIANAK, KOMPAS.com - Wafatnya Bupati Melawi, Ambrosius Suman Kurik (60), 12 Januari lalu, menyisakan kisah yang tak bakal terlupakan oleh jajaran KPU setempat. Beberapa jam sebelum mengembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung, Suman sempat berkoodinasi dengan KPU terkait kelancaran tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada).

"Pagi itu, almarhum menelepon kami, menanyakan apakah ada kendala? Kami menanyakan rencana utang Rp 500 juta untuk biaya tahapan awal Pemilukada, karena anggaran kami belum disepakati," kata Ketua KPU Melawi, Julita, Selasa (19/1/10), di sela mengikuti koodinasi dengan KPU Provinsi Kalbar dan 6 KPU daerah yang hendak menggelar Pemilukada serentak.

Ide berutang ke Pemkab itu, tutur Julita, merupakan saran dari Suman sendiri. Pasalnya, dari Rp 12 miliar yang diusulkan KPU, masih mentok karena pimpinan DPRD Melawi belum dilantik.

Karena keperluan dana itu sangat mendesak, Suman meminta staf KPU membawa dokumen utang langsung ke kediaman dinasnya. Sebab, dokumen itu perlu segera diteken, untuk proses pencairan dana.

"Beliau bilang, bawa dokumennya ke rumah. Saya sedang sakit jadi tak masuk kantor," ujar Julita menirukan ucapan Suman.

Seorang staf diutus ke rumah dinas bupati di Nanga Pinoh, Melawi untuk mendapatkan teken. Ada suatu kejadian janggal, karena dari tiga lembar dokumen, hanya dua yang ditandatangani Suman.

Staf tersebut baru menyadari selembar dokumen lagi belum ditandatangani, dan berniat kembali ke ruang Suman. Namun, tiba-tiba para keluarga dan orang yang ada di rumah dinas kalut.

Bupati Suman tiba-tiba pingsan! Meski mendapat usaha pertolongan dari tim dokter, Suman akhirnya meninggal sekitar pukul 11.15 WIB.

Julita mengaku kaget, karena selama ini tak pernah melihat orang nomor satu di Melawi itu sakit-sakitan. Boleh jadi, dokumen utang KPU Melawi tersebut termasuk berkas akhir yang sempat ditekennya sebelum Sang Kahlik memanggil. (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau