Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi
PONTIANAK, KOMPAS.com - Wafatnya Bupati Melawi, Ambrosius Suman Kurik (60), 12 Januari lalu, menyisakan kisah yang tak bakal terlupakan oleh jajaran KPU setempat. Beberapa jam sebelum mengembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung, Suman sempat berkoodinasi dengan KPU terkait kelancaran tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada).
"Pagi itu, almarhum menelepon kami, menanyakan apakah ada kendala? Kami menanyakan rencana utang Rp 500 juta untuk biaya tahapan awal Pemilukada, karena anggaran kami belum disepakati," kata Ketua KPU Melawi, Julita, Selasa (19/1/10), di sela mengikuti koodinasi dengan KPU Provinsi Kalbar dan 6 KPU daerah yang hendak menggelar Pemilukada serentak.
Ide berutang ke Pemkab itu, tutur Julita, merupakan saran dari Suman sendiri. Pasalnya, dari Rp 12 miliar yang diusulkan KPU, masih mentok karena pimpinan DPRD Melawi belum dilantik.
Karena keperluan dana itu sangat mendesak, Suman meminta staf KPU membawa dokumen utang langsung ke kediaman dinasnya. Sebab, dokumen itu perlu segera diteken, untuk proses pencairan dana.
"Beliau bilang, bawa dokumennya ke rumah. Saya sedang sakit jadi tak masuk kantor," ujar Julita menirukan ucapan Suman.
Seorang staf diutus ke rumah dinas bupati di Nanga Pinoh, Melawi untuk mendapatkan teken. Ada suatu kejadian janggal, karena dari tiga lembar dokumen, hanya dua yang ditandatangani Suman.
Staf tersebut baru menyadari selembar dokumen lagi belum ditandatangani, dan berniat kembali ke ruang Suman. Namun, tiba-tiba para keluarga dan orang yang ada di rumah dinas kalut.
Bupati Suman tiba-tiba pingsan! Meski mendapat usaha pertolongan dari tim dokter, Suman akhirnya meninggal sekitar pukul 11.15 WIB.
Julita mengaku kaget, karena selama ini tak pernah melihat orang nomor satu di Melawi itu sakit-sakitan. Boleh jadi, dokumen utang KPU Melawi tersebut termasuk berkas akhir yang sempat ditekennya sebelum Sang Kahlik memanggil. (*)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang