Bandar Lampung, Kompas -
Pemantauan Kompas, Selasa (19/1) di pasar tradisional di Bandar Lampung, menunjukkan, harga beras termurah saat ini sekitar Rp 6.000 per kilogram. Beras kualitas terbaik mencapai Rp 7.500-Rp 8.000 per kilogram, sedangkan beras kualitas sedang mencapai Rp 6.500-Rp 7.000 per kilogram.
Endro dari Toko Beras Indah Jaya, Pasar Tugu, Bandar Lampung, mengatakan, tingginya harga beras terjadi sejak satu bulan terakhir, menyusul menipisnya stok gabah di tingkat penggilingan.
”Kami terpaksa berebut dengan pedagang beras lain,” ujar Endro.
Menurut dia, dari penggilingan beras langganannya di Pringsewu dan Metro, ia sudah mendapatkan pembatasan pasokan. Setiap minggu ia biasa berbelanja tujuh ton beras, tetapi dalam dua minggu terakhir ia hanya mendapat kiriman dua ton beras per minggu.
Selain itu, ia sudah tidak menjual beras kualitas asalan. Penggilingan sudah tidak memiliki stok beras berkualitas asalan, kalaupun tersedia, harga jualnya relatif tinggi, Rp 6.000-Rp 6.200 per kilogram dari sebelumnya Rp 4.800-Rp 5.000 per kilogram.
Kondisi senada juga diungkapkan Andi, pengelola toko beras Mulya Tani di Jalan Hayam Wuruk, Bandar Lampung.
Ia mencontohkan, beras kualitas terbaik merek Dua Delima saat ini sudah dijual Rp 165.000 per karung isi 25 kilogram dari sebelumnya Rp 155.000 per karung.
Beras merek RJ dijual Rp 177.500 per karung isi 25 kilogram dari sebelumnya Rp 165.000 per karung.
”Harga beras kualitas super atau terbaik lainnya juga rata- rata terus naik dalam sepekan terakhir,” ujar Andi.
Endro mengatakan, tingginya harga beras diperkirakan akan terus berlangsung sampai awal April 2010 atau tepat saat awal musim panen. ”Saat itu harga akan turun perlahan,” ujar Endro.
Namun, Endro mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan operasi pasar.
Tujuannya untuk meredam tingginya harga di pasaran dan membantu warga.
Secara terpisah, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said mengatakan, setiap desa di Lampung sebaiknya mulai mengaktifkan kembali lumbung desa. Warga diminta menyimpan gabah di lumbung desa saat panen dan bisa menjual atau menggunakannya pada saat musim paceklik atau saat belum panen seperti sekarang.
Joko mengatakan, lumbung padi tersebut mengajarkan petani agar mau menunda jual dan menyimpan gabah sebagai cadangan.