Perdagangan

Harga Beras di Lampung Masih Stabil Tinggi

Kompas.com - 20/01/2010, 02:26 WIB

Bandar Lampung, Kompas - Harga beras di Lampung stabil tinggi. Tingginya harga beras diperkirakan akan terus berlangsung sampai dengan April atau bertepatan dengan awal musim panen. Sementara itu, pemerintah mengimbau setiap desa agar mengelola kembali lumbung desa untuk menjaga stok pangan.

Pemantauan Kompas, Selasa (19/1) di pasar tradisional di Bandar Lampung, menunjukkan, harga beras termurah saat ini sekitar Rp 6.000 per kilogram. Beras kualitas terbaik mencapai Rp 7.500-Rp 8.000 per kilogram, sedangkan beras kualitas sedang mencapai Rp 6.500-Rp 7.000 per kilogram.

Endro dari Toko Beras Indah Jaya, Pasar Tugu, Bandar Lampung, mengatakan, tingginya harga beras terjadi sejak satu bulan terakhir, menyusul menipisnya stok gabah di tingkat penggilingan.

”Kami terpaksa berebut dengan pedagang beras lain,” ujar Endro.

Menurut dia, dari penggilingan beras langganannya di Pringsewu dan Metro, ia sudah mendapatkan pembatasan pasokan. Setiap minggu ia biasa berbelanja tujuh ton beras, tetapi dalam dua minggu terakhir ia hanya mendapat kiriman dua ton beras per minggu.

Selain itu, ia sudah tidak menjual beras kualitas asalan. Penggilingan sudah tidak memiliki stok beras berkualitas asalan, kalaupun tersedia, harga jualnya relatif tinggi, Rp 6.000-Rp 6.200 per kilogram dari sebelumnya Rp 4.800-Rp 5.000 per kilogram.

Kondisi senada juga diungkapkan Andi, pengelola toko beras Mulya Tani di Jalan Hayam Wuruk, Bandar Lampung. Harga beras kualitas terbaik mengalami kenaikan yang lumayan tinggi.

Ia mencontohkan, beras kualitas terbaik merek Dua Delima saat ini sudah dijual Rp 165.000 per karung isi 25 kilogram dari sebelumnya Rp 155.000 per karung.

Beras merek RJ dijual Rp 177.500 per karung isi 25 kilogram dari sebelumnya Rp 165.000 per karung.

”Harga beras kualitas super atau terbaik lainnya juga rata- rata terus naik dalam sepekan terakhir,” ujar Andi.

Endro mengatakan, tingginya harga beras diperkirakan akan terus berlangsung sampai awal April 2010 atau tepat saat awal musim panen. ”Saat itu harga akan turun perlahan,” ujar Endro.

Namun, Endro mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan operasi pasar.

Tujuannya untuk meredam tingginya harga di pasaran dan membantu warga.

Secara terpisah, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said mengatakan, setiap desa di Lampung sebaiknya mulai mengaktifkan kembali lumbung desa. Warga diminta menyimpan gabah di lumbung desa saat panen dan bisa menjual atau menggunakannya pada saat musim paceklik atau saat belum panen seperti sekarang.

Joko mengatakan, lumbung padi tersebut mengajarkan petani agar mau menunda jual dan menyimpan gabah sebagai cadangan. (HLN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau