Sebelum ACFTA Berlaku, Ponsel China Sudah Menjamur

Kompas.com - 22/01/2010, 16:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebelum ASEAN-China Free Trade Agreement atau ACFTA berlaku pada 1 Januari 2010, ponsel China sudah banyak merambah pasar Indonesia. Namun, sejumlah pedagang ponsel di Mangga Dua mengaku bahwa kedatangan FTA itu masih belum berdampak secara langsung.

Apakah penjualan dan peminat ponsel China naik setelah adanya ACFTA pada awal tahun 2010? "Tidak juga," kata Septi, pengecer ponsel di Jembatan Niaga II Mall Mangga Dua, Jumat (22/1/2010).

"Orang memang membeli karena murah, tapi fiturnya banyak." Septi malah beranggapan bahwa ponsel-ponsel China laku karena mengikuti tren bentuk qwerty, seperti BlackBerry, tetapi dengan harga yang sangat bersahabat. Ia juga mengaku bisa menjual lima ponsel China dalam sehari, walau ada juga hari-hari yang memang sepi pengunjung.

ACFTA membuka peluang membanjirnya ponsel merek China di Indonesia. Namun, para pengecer pun rata-rata hanya menjagokan nama yang sudah dikenal luas. "Awalnya memang booming, tetapi sekarang sudah rata-rata karena banyak (tipe). Yang nge-top yah paling Nexian," ucap Adi, seorang pengecer ponsel di Jembatan Dusit ITC Mangga Dua, Jumat.

Adi juga mengakui, pangsa pasar dengan kualitas rendah atau low-end sudah dikuasai merek China. "Kalau dananya cuma sekitar Rp 800.000, beli Nokia dapat apa coba? Fitur tambahan terbagus paling cuma radio," ungkap Adi yang menunjukkan bahwa ponsel merek China dengan budget yang sama sudah memiliki dual SIM card, memudahkan browsing Facebook dan situs jejaring sosial lainnya, serta kamera VGA.

Namun, kalau ada dana dan mencari-cari fitur lebih, seperti kamera yang lumayan bagus, menurut Adi, orang tetap akan lari ke merek para pemain lama, seperti Nokia atau Sony Ericsson. "Justru ponsel China yang mahal tak laku. Yang low-end sajalah."

Harga tak seperti diiklankan

Tidak semua harga ponsel China yang diiklankan sesuai dengan promosi di koran dan media massa. Adi menunjukkan iklan Nexian G522 dengan tawaran per unit Rp 599.000 yang ternyata bisa memiliki harga membengkak saat beredar di pasar. "Paling Rp 650.000," ungkapnya. Ucapan Adi itu juga dibenarkan sumber dari toko ponsel lain di daerah Mangga Dua.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau