Energi

PLTU Sumatera Utara Ditambah Dua Unit

Kompas.com - 23/01/2010, 04:08 WIB

Medan, Kompas - Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Sumatera Utara 2 x 200 megawatt dipastikan akan ditambah menjadi dua unit pembangkit lagi. Proyek pembangkit unit I dan II yang masuk dalam program 10.000 megawatt ini bahkan direncanakan sudah beroperasi pada bulan April tahun depan.

”PLTU Sumut 2 x 200 MW ini, kan, sebelumnya diatur dalam Keppres Nomor 71 Tahun 2006. Kemudian ada keppres baru yang mengatur proyek 10.000 MW tahap dua, dan PLTU Sumut mendapat tambahan dua unit pembangkit lagi sebesar 2 x 200 MW juga,” ujar General Manager PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera Utara Aceh dan Riau Bintatar Hutabarat di Medan, Jumat (22/1).

Menurut Bintatar, dua unit pertama PLTU Sumut akan melakukan commercial operation date (COD) pada April 2011. ”Dengan dua unit pertama akan COD pada April 2011, kami yakin kebutuhan listrik di wilayah Sumut bakal terpenuhi,” katanya.

Bintatar mengatakan, penambahan pembangkit di Sumut itu sejalan dengan tingkat pertumbuhan permintaan listrik di provinsi ini yang mencapai 7-8 persen per tahun. Dalam waktu dekat, lanjut Bintatar, sistem listrik Sumut juga bakal mendapat pasokan dari pembangkit baru.

”Secara resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan PLTU Labuhan Angin pada 28 Januari ini. Selain itu, PLTA Asahan I dengan kapasitas 2 x 90 MW sudah dapat beroperasi pada bulan April ini,” ujar Bintatar.

PLTU Labuhan Angin yang berkapasitas 2 x 115 MW sebenarnya beroperasi sejak akhir 2008. Namun, berbagai kendala, seperti terjadi kerusakan alat, membuat PLTU ini belum juga dapat dioperasionalkan secara resmi. PLTU Labuhan Angin dibangun oleh kontraktor asal China, CEMEC.

”Memang wajar kalau PLTU baru itu selalu mengalami kerusakan dalam pengujian operasionalnya. Hanya saja, karena ini terjadi di Sumatera, jadi begitu rusak dan kami perbaiki, itu sangat terasa karena langsung ada pemadaman. Berbeda dengan di Pulau Jawa. PLTU yang baru di Jawa juga sering kali mengalami kendala dalam operasional pertamanya, tetapi kan tidak sampai ada pemadaman karena tertutup oleh pembangkit lainnya,” katanya.

Selain itu, pada masa yang akan datang, untuk memenuhi kebutuhan listrik dan meningkatkan rasio elektrifikasi masyarakat, PLN, lanjut Bintatar, mengembangkan PLTU mini dengan kapasitas 3 atau 7 MW. Dari program ini, Sumut mendapatkan empat PLTU mini.

”Ini memang untuk meningkatkan rasio elektrifikasi masyarakat yang di Indonesia ini masih 62 (setiap 100 orang, baru 62 orang yang mendapat aliran listrik). Sengaja nanti dipilih daerah-daerah yang selama ini sulit mendapatkan listrik. Tiga lokasi lain di Sumut belum saya ketahui secara pasti, tetapi yang pasti satu ada di Nias. Selain Sumut, Aceh juga akan mendapatkan tujuh PLTU mini yang sama,” katanya.

Pilihan terhadap PLTU mini ini, menurut Bintatar, selain tidak membutuhkan areal yang luas, juga sumbernya relatif murah dan mudah didapat. (BIL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau