Medan, Kompas -
”PLTU Sumut 2 x 200 MW ini, kan, sebelumnya diatur dalam Keppres Nomor 71 Tahun 2006. Kemudian ada keppres baru yang mengatur proyek 10.000 MW tahap dua, dan PLTU Sumut mendapat tambahan dua unit pembangkit lagi sebesar 2 x 200 MW juga,” ujar General Manager PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera Utara Aceh dan Riau Bintatar Hutabarat di Medan, Jumat (22/1).
Menurut Bintatar, dua unit pertama PLTU Sumut akan melakukan commercial operation
Bintatar mengatakan, penambahan pembangkit di Sumut itu sejalan dengan tingkat pertumbuhan permintaan listrik di provinsi ini yang mencapai 7-8 persen per tahun. Dalam waktu dekat, lanjut Bintatar, sistem listrik Sumut juga bakal mendapat pasokan dari pembangkit baru.
”Secara resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan PLTU Labuhan Angin pada 28 Januari ini. Selain itu, PLTA Asahan I dengan kapasitas 2 x 90 MW sudah dapat beroperasi pada bulan April ini,” ujar Bintatar.
PLTU Labuhan Angin yang berkapasitas 2 x 115 MW sebenarnya beroperasi sejak akhir 2008. Namun, berbagai kendala, seperti terjadi kerusakan alat, membuat PLTU ini belum juga dapat dioperasionalkan secara resmi. PLTU Labuhan Angin dibangun oleh kontraktor asal China, CEMEC.
”Memang wajar kalau PLTU baru itu selalu mengalami kerusakan dalam pengujian operasionalnya. Hanya saja, karena ini terjadi di Sumatera, jadi begitu rusak dan kami perbaiki, itu sangat terasa karena langsung ada pemadaman. Berbeda dengan di Pulau Jawa. PLTU yang baru di Jawa juga sering kali mengalami kendala dalam operasional pertamanya, tetapi kan tidak sampai ada pemadaman karena tertutup oleh pembangkit lainnya,” katanya.
Selain itu, pada masa yang akan datang, untuk memenuhi kebutuhan listrik dan meningkatkan rasio elektrifikasi masyarakat, PLN, lanjut Bintatar, mengembangkan PLTU mini dengan kapasitas 3 atau 7 MW. Dari program ini, Sumut mendapatkan empat PLTU mini.
”Ini memang untuk meningkatkan rasio elektrifikasi masyarakat yang di Indonesia ini masih 62 (setiap 100 orang, baru 62 orang yang mendapat aliran listrik). Sengaja nanti dipilih daerah-daerah yang selama ini
Pilihan terhadap PLTU mini ini, menurut Bintatar, selain tidak membutuhkan areal yang