100 Hari Pertama, Tingkat Kepuasan terhadap SBY Turun

Kompas.com - 23/01/2010, 10:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Masa "bulan madu" Susilo Bambang Yudhoyono pasca-terpilih sebagai Presiden RI 2009-2014 bersama wakilnya, Boediono, tampaknya sudah usai. Survei terakhir yang dilakukan Indo Barometer 8-18 Januari 2010 menunjukkan tren penurunan tingkat kepuasan terhadap SBY dan jajarannya. Direktur Indo Barometer M Qodari mengungkapkan, dari survei terbaru, angka kepuasan SBY berada di angka 75 persen. Angka ini turun dibandingkan survei sebelumnya pada Agustus 2009. Saat itu, tingkat kepuasan terhadap SBY mencapai 90 persen.

"Angka tingkat kepuasan menurun 15 persen dibandingkan survei Agustus 2009 yang mencapai 90 persen. Kami maklum, Agustus 2009 itu masih angka euforia, ibaratnya bulan madu bagi SBY yang baru terpilih sebagai Presiden," kata Qodari pada diskusi Seratus Hari Kabinet, Sabtu (23/1/2010) di Jakarta.

Akan tetapi, angka 75 persen ini dinilainya masih menjadi kabar bagus bagi SBY. "Kalau turun wajar karena bulan madu kan tidak selamanya," ujarnya.

Salah satu faktor penurunan di antaranya karena tidak terdengarnya gaung program 100 hari yang tertutup dengan isu politik dan hukum yang lebih menggema. Dari hasil survei Indo Barometer pula, diketahui hanya 49 persen responden yang pernah mendengar program 100 hari. Sementara itu, angka pengetahuan masyarakat terhadap persoalan hukum jauh lebih besar. Qodari mencontohkan, sebanyak 69 persen reponden mengaku tahu dengan kasus Bibit-Chandra. Demikian pula dengan kasus Antasari Azhar (79 persen) dan kasus Bank Century (77 persen).

"Bahkan 25 persen responden mengaku setiap hari mengikuti kasus Century," ungkap Qodari.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring memandang wajar adanya tren penurunan angka kepuasan terhadap pemerintah. "Persepsi itu memang kadang naik kadang turun, tergantung asupan informasinya. Maka, media harus memberitakannya secara berimbang," ujar Tifatul dalam kesempatan yang sama.

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagyo, justru menilai bahwa penurunan ini menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat atas program pemerintah terhadap peningkatan kesejahteraan. "Masyarakat menjadi apatis. Mereka perlu jawaban, tahun depan mau apa? Apakah mereka bisa meningkat kesejahteraan. Presiden harus menjelaskan, ke mana negara ini mau dibawa agar masyarakat tidak ragu," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau