Wasiat Alisjahbana kepada Arifin Panigoro

Kompas.com - 23/01/2010, 20:02 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Arifin Panigoro sempat merasa dirinya tidak layak menerima gelar doktor kehormatan dari almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, berkat dorongan almarhum Iskandar Alisjahbana, pendiri Grup Medco ini merasa percaya diri menerima gelar yang dianggapnya sangat terhormat itu.

"Almarhum suatu ketika pernah bilang ke saya, Arifin, kamu layak mendapatkan gelar kehormatan. Tetapi, saya merasa belum pantas. Itu (gelar kehormatan) sangat tinggi bagi saya. Ketika saya terakhir kali ke ITB memberikan orasi, sebetulnya itu adalah langkah kompromi. Namun, usai memberikan orasi (Oktober 2008), almarhum bilang ke saya, 'Belum selesai Arifin'," katanya, menceritakan kisah di balik proses panjang pengusulan gelar Doktor HC kepada dirinya, Sabtu (23/1/2010) di Bandung, dalam jumpa pers.

Beberapa bulan setelah Arifin memberikan orasi ilmiah di ITB, Iskandar Alisjahbana, yang merupakan salah satu sosok yang paling penting dalam kehidupan raja minyak pribumi ini, kemudian meninggal. "Inilah yang membuat saya terus kepikiran. Seolah perkataan almarhum menjadi wasiat," tuturnya.

Pengusulan gelar Doktor HC kepada Arifin Panigoro, diakui ketua tim promotor Djoko Santoso, memang memakan waktu yang sangat panjang, yaitu enam tahun. "Bahkan, ini telah diusulkan sejak saya masih menjabat di Senat (Akademik)," kata Rektor ITB ini. Menurutnya, salah satu penyebabnya, Arifin sering merasa belum layak menerimanya.

Kini, setelah menerima gelar Doktor HC, dengan bercanda, Arifin merasa dirinya lebih pintar dan percaya diri. "Dengan ini (gelar Doktor HC) saya merasa jadi seperti orang pintar," ucap pengusaha dan mantan politikus yang menamatkan studinya di ITB selama 10 tahun ini.

Uniknya, meskipun mengakui bahwa Iskandar Alisjahbana adalah sosok yang amat penting dalam hidupnya karena mendorongnya untuk terus melanjutkan studi di ITB, dalam orasinya, Arifin Panigoro menomorsatukan guru-gurunya di TK SD Kebon Kelapa, SD Merdeka 5 Bandung, SMPN 2 Bandung, SMAN 2 Bandung, dan dosen-dosen di ITB dalam ucapan terima kasihnya.

Menurut Arifin, pendidikan merupakan faktor yang penting bagi bangsa ini untuk bisa lepas landas dari ketertinggalannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau