Keprihatinan Arifin Panigoro dan Sembilan Prinsip Bisnisnya

Kompas.com - 24/01/2010, 03:21 WIB

Di masa depan, Indonesia bakal menghadapi tantangan besar di bidang energi, pangan, dan lingkungan hidup. Tanpa upaya keras, sinergi pemerintah, akademisi, serta pengusaha untuk menjadikan iptek dan inovasi sebagai ujung tombak pembangunan, bangsa ini akan semakin tenggelam.

Hal itu diingatkan Arifin Panigoro (65), pendiri perusahaan energi dari Tanah Air, Medco Group, dalam orasi ilmiahnya saat menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam bidang teknopreneurship dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (23/1) di Aula Barat, Kampus ITB Bandung. Hadir sejumlah undangan, antara lain pengusaha Peter F Gonta, Anis Baswedan, Komaruddin Hidayat, Siswono Yudo Husodo, Sukardi Rinakit, Marsillam Simanjuntak, Bupati Merauke John Gebze, dan sejumlah pemimpin redaksi media massa.

Dalam sidang senat terbuka ITB yang dipimpin Rektor ITB sekaligus Ketua Tim Promotor Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc, Arifin Panigoro mengemukakan, bangsa ini kini tengah mengalami entropi, yaitu sebuah kondisi atau ukuran kekacauan yang sulit untuk dipecahkan. Seolah kian banyak persoalan mengimpit, belum lagi tiga tantangan terbesar di masa depan, yaitu ketahanan energi, pangan, dan lingkungan hidup.

Menurut alumnus Jurusan Teknik Elektro ITB tahun 1973 itu, pembangunan nasional harus menjadikan teknologi sebagai ujung tombak strategi, sementara ekonomi sebagai cita- citanya. Inovasi bukan hanya menyangkut soal teknologi, melainkan juga kehidupan sosial.

Terkait hal ini, ia melihat pentingnya peranan para wirausaha. Upaya mengatasi tantangan energi, pangan, dan lingkungan hidup tidak hanya bisa diserahkan ke pemerintah, melainkan juga perlu dukungan para wirausaha dan akademisi. ”Tugas wirausaha tidak hanya memajukan perusahaan, tetapi juga bangsanya melalui berbagai inovasi,” ujar Arifin.

Dalam orasi berjudul Kuasai Teknologi, Bangun Ekonomi, Tegakkan Martabat Bangsa itu, secara khusus, Arifin Panigoro mengetengahkan filosofinya dalam berbisnis—sebagaimana judul bukunya, Berbisnis Itu Tidak Mudah, yang dibagikan kepada para tamu undangan. Dari sembilan prinsip berbisnis yang diperolehnya dari proses belajar panjang, ternyata delapan prinsip di antaranya berkaitan dengan karakter. Cuma satu prinsip berkaitan dengan kompetensi.

Kesembilan prinsip bisnis yang dipegang Arifin adalah intuisi (memadukan kata hati dan akal sehat), kesetaraan (bersikap adil kepada lawan sekalipun), kejujuran (jujur itu langgeng), percaya diri (yakinkan diri, pengaruhi orang lain), jejaring (sejuta kawan kurang, satu lawan jangan), tanggung jawab (tunaikan kewajiban, hadapi persoalan), sumber daya manusia (pilih yang terbaik dan berdayakan), inovasi (berkarya tanpa jeda), serta peduli (menumbuhkan entrepreneurship).

”Dalam menegakkan prinsip-prinsip tersebut, saya bisa memahami pernyataan Ken Blanchard, ’Kalau Anda selalu dihadapkan pada pilihan yang mudah, Anda tidak akan pernah membangun karakter.’ Begitulah yang saya alami dalam mengelola dan mengembangkan Medco Group. Ketika prahara krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1997, tak ayal perusahaan yang saya pimpin ini terbelit utang besar akibat nilai tukar rupiah merosot tajam dan kesulitan likuiditas,” kata Arifin.

Pada saat itulah, karakter pengusaha, yaitu prinsip tanggung jawab yang dipelajarinya dari mendiang ayahnya yang pengusaha—salah satunya bahwa

pengusaha harus bisa membayar utang dengan konsekuensi apa pun—menjadi relevan. Berkat prinsip itulah, awal 2005, mayoritas saham perusahaannya bisa dikuasainya kembali.

”Saya berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang, berbisnis yang didasari dengan prinsip- prinsip yang baik, yang secara umum sering disebut berbisnis dengan berpegang teguh pada etika, adalah jaminan utama bagi terselenggaranya kegiatan bisnis dan tercapainya tujuan bisnis yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” kata Arifin. (jon/hrd/adp)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau