Aryanti, Kesetiaan Merawat Anak "Down Syndrome"

Kompas.com - 24/01/2010, 18:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hidup kadang tak sesuai yang kita inginkan. Pun ketika Tuhan menganugerahkan anak yang tidak sempurna. Namun, bagi Aryanti Rosihan Yacub, Tuhan selalu maha adil.

Sekali pun putra bungsunya terlahir menjadi anak down syndrome, Aryanti tidak lantas berputus asa.  Minggu (24/1/2010), adalah pembuktian baginya.  Putra kesayangannya tersebut berhasil tercatat dalam rekor MURI sebagai pegolf penyandang down syndrome satu-satunya di Asia.

20 tahun lalu, Aryanti melahirkan anak ketiganya yang ia beri nama Michael Rosihan Yacub. Ketika masih bayi, tidak terasa ada yang berbeda dari anaknya. Wajah Michael masih sama lucunya dengan anak-anak lain.

Namun semakin bertambah usia, barulah tampak ada yang berbeda dari Michael. Seperti anak down syndrome lainnya, wajah Michael berciri "Mongoloid". Wajah yang hampir sama seperti anak-anak down syndrome pada umumnya.

Kehidupan Aryanti tetap berjalan normal sampai 1995, ketika ia mulai merasa ada keganjalan pada dirinya. "Saya jadi mudah sekali pingsan, satu hari bisa berkali-kali, saya cek ke dokter tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan," ujar Aryanti mulai berkisah kepada Kompas.com, Minggu (24/1/2010).

"Ada yang mengatakan, mungkin saya stres punya anak down syndrome, tapi enggak kok," katanya.

Aryanti tapi tidak bisa mengelak, jika dugaan orang lain itu mungkin benar.  "Tapi mungkin alam bawah sadar, kita enggak pernah tahu," ucap wanita yang telah 11 tahun menjadi ketua Ikatan Sindroma Down Indonesia tersebut.

Cemoohan dari orang lain karena mempunyai anak down syndrome kerap menghantui Aryanti. Tapi semua itu segera berlalu, karena nyatanya ia mampu membuktikan bahwa anaknya punya talenta luar biasa.

Tahun 1999, Aryanti memimpin ISDI. Sejak itu banyak orangtua yang memanfaatkan ISDI sebagai sarana diskusi tentang perkembangan anak mereka. Sejak itu pulalah Aryanti sudah tidak pernah pingsan tiba-tiba lagi.

"Semenjak jadi ketua ISDI saya enggak pernah pingsan lagi, enggak tahu kenapa," ucapnya.

Panggilan sosial tersebut, membuat perubahan dalam kehidupan Aryanti. Michael kecil sudah rajin berolahraga dan kerap mendapat penghargaan. Ia mahir dalam bidang atletik, renang, dan golf.

Beberapa penghargaan sudah sering disabetnya, antara lain pada Special Olympic tahun 2003 untuk olahraga renang dan soft ball, dan pada 2006 dalam sebuh kompetisi amal bagi penderita down syndrome di Singapura. Sejak memimpin ISDI, Aryanti banyak melakukan gebrakan bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Di antaranya, dengan mempertontonkan kebolehan anak-anak didik ISDI dalam bermain angklung, melukis, dan olahraga. Sejak itu, perhatian terhadap anak down syndrome mulai meningkat.

Meski telah memiliki cucu, Aryanti masih terlihat muda. Ketegarannya selama 20 tahun belakangan ternyata telah berbuah hasil. Mendidik anak down syndrome memang tidak mudah. Baginya, adalah berkah menjadi orangtua anak down syndrome. Berkah yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh orang tua yang memiliki anak normal.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau