TANJUNG PINANG, KOMPAS.com — Ketua Badan Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan, sebanyak 278 tarif impor Indonesia-China terkait dengan pemberlakuan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) masih direnegosiasi.
"Sebanyak 278 tarif yang masih direnegosiasikan pemberlakuannya tersebut untuk menjaga ketahanan industri dalam negeri," kata Harry di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Minggu (24/1/2010).
Harry mengatakan, dari 1.700 lebih tarif impor yang sudah menjadi nol, 278 tarif di antaranya masih dilakukan pembicaraan ulang dan baru akan diberlakukan tarifnya menjadi nol pada akhir 2010.
"Tarif biaya masuk produk China yang 278 tersebut akan dibahas lagi di Komisi VI DPR untuk proteksi industri dalam negeri dan akan menjadi nol pada tahun 2010 dengan cara bertahap," ujarnya.
Dia mengatakan, Indonesia bisa saja menolak pemberlakuan tarif menjadi nol dari 278 jenis tarif tersebut. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan karena akan memicu penyelundupan dari negara tetangga. "Tentu penolakan juga tidak akan efektif karena akan terjadi penyelundupan dengan harga yang murah," ungkapnya.
Harry mengatakan, bea masuk yang ditargetkan dalam APBN Rp 9 triliun dengan adanya CAFTA juga akan berkurang sebanyak Rp 2 triliun. "Bea masuk akan berkurang Rp 2 triliun dari 17,9 persen porsi impor Indonesia-China," katanya.
Menurut dia, yang terkena imbas dari pemberlakuan CAFTA adalah industri tekstil, mainan, sepatu, elektronik, termasuk beberapa industri lain yang belum berdampak terlalu besar.
"Disatu sisi pemberlakukan CAFTA tersebut menguntungkan konsumen karena banyak pilihan dengan harga murah, namun disisi lain merugikan dikalangan industri dalam negeri yang menyebabkan akan terjadinya peningkatan pengangguran akibat PHK," ujar Harry, politisi dari Partai Golkar daerah pemilihan Kepri.
CAFTA dimulai dari tahun 2002 dan mulai efektif pada tahun 2004, pemberlakukan tarif impor menjadi nol dimulai pada 2010 untuk 1.700 lebih tarif yang dilakukan secara bertahap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang