KOLOMBO, KOMPAS.com - Sejumlah ledakan bom menjelang fajar mewarnai pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) di Sri Lanka, Selasa (26/1/2010) ini. Pemungutan suara itu menghadapkan incumben Mahinda Rajapakse dengan mantan panglima militernya, Sarath Fonsenka.
Menurut saksi mata, di pinggiran ibu kota Kolombo, rakyat berbaris setengah jam sebelum tempat pemungutan suara dibuka di seluruh negara pada pukul 07.00 waktu setempat. Pemungutan suara akan ditutup pada pukul 16.00.
Hasil pertama diperkirakan akan diumumkan Selasa malam dan hasil akhir diperkirakan diketahui sekitar Rabu siang. Selama akhir pekan, televisi pemerintah Sri Lanka menayangkan film tentang kekejaman diktator Uganda Idi Amin, sebagai sindiran terhadap Fonseka, yang ikut bersaing dalam Pilpres ini.
Para aktivis partai berkuasa bekerja keras untuk menggambarkan tokoh militer karir itu, yang sering dilukiskan mengenakan seragam militer di dalam literatur kampanyenya, sebagai diktator mendatang yang akan menumbangkan lebih dari 60 tahun demokrasi Sri Lanka.
Kepercayaan militer yang diemban Fonseka merupakan bagian dari daya tarik kepopulerannya, dan titik lemahnya adalah pada saat dia berusaha menggeser mantan bosnya, Mahinda Rajapakese, yang bersamanya pada tahun lalu berhasil mengakhiri perang etnis yang telah berlangsung 37 tahun.
Bagi para pendukungnya, nasionalis dari kelompok etnis mayoritas Sinhala, dia adalah orang yang mendisiplinkan pemerintah dan memberantas korupsi yang beberapa pihak melihatnya punya pengaruh di bawah presiden. "Dia punya 10 perencanaan tetapi saya hanya bisa menerima satu di antaranya: yakni ketika dia mengatakan bahwa dia akan membuat aset kekayaannya bisa diakses," kata N Nawajeevan, 30 tahun, seorang wiraswasta yang hadir pada kampanye terakhir Fonseka akhir pekan lalu.
Fonseka, ayah dua gadis yang semuanya sedang belajar di Amerika Serikat, memasukan semua hal dalam perjuangan sengitnya menghadapi Rajapakse dan memperhitungkan suku Tamil, kelompok Marxis, sayap kanan dan kelompok nasionalis di dalam koalisinya.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan, 7.000 warga sipil tewas selama serangan terakhir dan badan dunia itu juga menyebut bahwa Kolombo bertanggungjawab pada dugaan pembunuhann di luar putusan pengadilan terhadap para tahanan suku Tamil. Fonseka, yang reputasinya meningkat selama perang, menolak tuduhan melakukan kejahatan perang dan berikrar akan menghadapi pemeriksaan, tidak seperti Rajapakse yang secara konsisten menolak pemeriksaan. Pada April 2006, dia berhasil lolos dari upaya pembunuhan ketika pemberontak Tamil menargetkan dirinya dalam serangan bom bunuh diri di satu kompleks militer di Kolombo. Meskipun dia mengalami cedera serius, Fonseka segar kembali dan salah satu fotonya digunakan dalam literatur kampanyenya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang