Mau Anak Cerdas? Ajak Interaksi dengan Alam

Kompas.com - 26/01/2010, 15:24 WIB

KOMPAS.com - Proses tumbuh kembang anak yang baik salah satunya diawali lewat interaksi dengan alam. Selain membuat proses belajar lebih menyenangkan, alam merupakan sarana belajar yang penuh alternatif. Hal ini akan memberi pengaruh positif terhadap kecerdasan emosional sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan.

"Karena keterbatasan lahan bermain, anak-anak di kota besar lebih suka main video games atau internet. Kecenderungannya anak menjadi individualis, kurang minat baca, dan kurang tahan menghadapi tekanan," kata Seto Mulyadi Psi Msi, psikolog dan pemerhati dunia anak.

Seto atau akrab dipanggil Kak Seto menambahkan, kecerdasan emosional (EQ) sangat penting dan perlu dikembangkan sejak anak usia dini karena hal ini yang mendasari ketrampilan seseorang di tengah masyarakat kelak.

"Percuma saja memiliki prestasi akademik cemerlang bila anak tak bisa mengelola emosinya, mudah marah, mudah putus asa, angkuh dan sombong," katanya.

Bila kecerdasan mental anak di asah, anak akan memiliki kemampuan untuk menghargai dirinya sendiri atau orang lain, mampu memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, serta mengikuti aturan-aturan yang berlaku.

Upaya untuk merangsang potensi kecerdasan anak perlu diupayakan secara optimal sejak dini dengan cara-cara yang penuh cinta dan kasih sayang. "Anak-anak usia dini pada umumnya adalah pembelajar sejati. Mereka sangat suka aktivitas belajar sejauh terkait dengan suasana belajar yang menyenangkan," kata Kak Seto.

Salah satu cara untuk merangsang minat belajar anak adalah dengan mengajak anak bermain dan belajar mengenal alam. Dr.Tan Shot Yen, M.Hum, seorang medical doctor dan praktisi energy healing mengatakan, pada usia dua hingga lima tahun, anak harus lebih banyak dikenalkan pada kegiatan bermain.

"Di usia balita ini, bagian otak yang banyak berkembang adalah bagian otak tengah. Karena itu anak harus dididik dalam suasana penuh kasih sayang. Diajari lebih dekat melihat alam, melihat hewan dan tumbuhan. Jangan jejali anak dengan pelajaran logika dan eksakta, termasuk bahasa asing," katanya.

Bermain di alam bebas dengan suasana yang menyenangkan akan merangsang potensi kecerdasan anak-anak, baik kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan moral dan spiritualnya.

"Anak-anak yang diberi kesempatan untuk bermain akan tumbuh menjadi anak yang punya sikap toleransi dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya," tambah Dr.Tan, penulis buku Saya Pilih Sehat dan Sembuh ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau