Asing Terus Incar Bank Lokal

Kompas.com - 27/01/2010, 11:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mengawali tahun 2010, perbankan Indonesia menempati posisi teratas daftar belanja yang makin agresif. Mereka akan mengakuisisi sejumlah bank di negara-negara ASEAN. Perbankan Indonesia menempati posisi teratas daftar belanja mereka. Selama Januari ini, dua bank milik pemerintah India yang sudah menyatakan niatnya membeli bank di Indonesia, yakni State Bank of India (SBI) dan Union Bank.

Wakil Direktur Utama dan Direktur Eksekutif SBI Group Pratip Chaudhuri mengatakan, ketimbang negara ASEAN lainnya, "Indonesia prioritas utama kami," seperti dikutip harian berbahasa Inggris tertua di India, The Statesman, Minggu (24/1/2010). Setelah Indonesia, bank di Thailand dan Filipina jadi target berikutnya.

Di Indonesia, SBI Grup mengincar bank beraset Rp 1 triliun dengan jumlah kantor cabang minimal 40 kantor. Anggaran akuisisi 200 juta dollar AS. "Target akuisisi terlaksana pada kuartal kedua tahun ini," imbuh Subramanian Sathyamurthy, Direktur Operasional, Tresuri, dan Teknologi SBI Indonesia, kepada Kontan, Selasa (26/1/2010). Rencananya, SBI akan menggabungkan bank baru ini dengan Bank Indomonex yang sudah dikuasai sejak tahun 2006.

Tak mau ketinggalan, Union Bank mengaku tengah membidik empat bank kelas menengah di Indonesia. Kepada The Financial Express, bank milik pemerintah India itu mengaku sudah mendapat restu dari pemegang saham bank di Indonesia. Bank asal India lain yang sempat mengutarakan minat masuk ke Indonesia adalah Punjab National Bank (PNB). Namun, rencana itu belum terdengar kelanjutannya hingga kini.

Bukan cuma investor asal India yang serius mengincar bank di Indonesia. Perbankan asal Korea Selatan, seperti The Industrial Bank of Korea (IBK) dan Korea Development Bank (KDB), juga punya minat yang sama. Manajemen kedua bank pelat merah itu mengaku tinggal menunggu persetujuan dari pemegang saham mereka untuk menjalankan ekspansi.

Meski tampak agresif, langkah investor asal India dan Korea Selatan itu bisa dibilang tertinggal jika dibanding investor dari Malaysia dan Singapura yang lebih dulu mengecap manisnya memiliki bank di Tanah Air.

Direktur Perizinan BI dan Informasi Perbankan Bank Indonesia Joni Swastanto bilang, sampai saat ini BI belum menerima permohonan izin akuisisi dari investor Korea. Terakhir, BI menerima permohonan izin RHB Banking Group yang akan mengakuisisi Bank Mestika Dharma.

Agresivitas investor asing ini tampaknya terpicu manisnya bisnis perbankan di Tanah Air. Selain pasar yang luas, mereka tergiur dengan margin bunga yang mendekati 7 persen serta aturan kepemilikan yang liberal, sampai 99 persen. (Kontan/Andri Indradie, Herry Prasetyo)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau