JAKARTA, KOMPAS.com — Mengawali tahun 2010, perbankan Indonesia menempati posisi teratas daftar belanja yang makin agresif. Mereka akan mengakuisisi sejumlah bank di negara-negara ASEAN. Perbankan Indonesia menempati posisi teratas daftar belanja mereka. Selama Januari ini, dua bank milik pemerintah India yang sudah menyatakan niatnya membeli bank di Indonesia, yakni State Bank of India (SBI) dan Union Bank.
Wakil Direktur Utama dan Direktur Eksekutif SBI Group Pratip Chaudhuri mengatakan, ketimbang negara ASEAN lainnya, "Indonesia prioritas utama kami," seperti dikutip harian berbahasa Inggris tertua di India, The Statesman, Minggu (24/1/2010). Setelah Indonesia, bank di Thailand dan Filipina jadi target berikutnya.
Di Indonesia, SBI Grup mengincar bank beraset Rp 1 triliun dengan jumlah kantor cabang minimal 40 kantor. Anggaran akuisisi 200 juta dollar AS. "Target akuisisi terlaksana pada kuartal kedua tahun ini," imbuh Subramanian Sathyamurthy, Direktur Operasional, Tresuri, dan Teknologi SBI Indonesia, kepada Kontan, Selasa (26/1/2010). Rencananya, SBI akan menggabungkan bank baru ini dengan Bank Indomonex yang sudah dikuasai sejak tahun 2006.
Tak mau ketinggalan, Union Bank mengaku tengah membidik empat bank kelas menengah di Indonesia. Kepada The Financial Express, bank milik pemerintah India itu mengaku sudah mendapat restu dari pemegang saham bank di Indonesia. Bank asal India lain yang sempat mengutarakan minat masuk ke Indonesia adalah Punjab National Bank (PNB). Namun, rencana itu belum terdengar kelanjutannya hingga kini.
Bukan cuma investor asal India yang serius mengincar bank di Indonesia. Perbankan asal Korea Selatan, seperti The Industrial Bank of Korea (IBK) dan Korea Development Bank (KDB), juga punya minat yang sama. Manajemen kedua bank pelat merah itu mengaku tinggal menunggu persetujuan dari pemegang saham mereka untuk menjalankan ekspansi.
Meski tampak agresif, langkah investor asal India dan Korea Selatan itu bisa dibilang tertinggal jika dibanding investor dari Malaysia dan Singapura yang lebih dulu mengecap manisnya memiliki bank di Tanah Air.
Direktur Perizinan BI dan Informasi Perbankan Bank Indonesia Joni Swastanto bilang, sampai saat ini BI belum menerima permohonan izin akuisisi dari investor Korea. Terakhir, BI menerima permohonan izin RHB Banking Group yang akan mengakuisisi Bank Mestika Dharma.
Agresivitas investor asing ini tampaknya terpicu manisnya bisnis perbankan di Tanah Air. Selain pasar yang luas, mereka tergiur dengan margin bunga yang mendekati 7 persen serta aturan kepemilikan yang liberal, sampai 99 persen. (Kontan/Andri Indradie, Herry Prasetyo)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang