Polri Tunjukkan Pengamanan ATM Menggunakan Pemindai Sidik Jari

Kompas.com - 27/01/2010, 13:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus pembobolan ATM membuat pihak pengelola bank harus melakukan pengamanan ekstra. Dalam waktu dekat Polri akan memperkenalkan teknik pengamanan ATM dengan tambahan alat pemindai sidik jari.

"Dalam waktu dekat, mungkin besok atau lusa, kami akan demonstrasikan suatu alat pengaman bagi ATM yang akan dilakukan di seluruh Indonesia dengan menggunakan biometrik fingerprint scanner," kata Kabareskrim Komjen Ito Sumardi, Rabu (27/1/2010) di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Alat berupa pemindai sidik jari tersebut, kata Ito, sudah lebih dulu digunakan di negara-negara maju seperti di Amerika dan Eropa. Dengan alat tersebut, kata Ito, akan mencegah pembobolan ATM karena pelaku tidak bisa melakukan transaksi tanpa ada identifikasi identitas dirinya melalui sidik jari.

Ia juga mengatakan sudah melakukan konfirmasi dengan pihak bank mengenai rencana tersebut. Ia menilai penyebab kasus pembobolan ATM yang terjadi belakangan ini adalah lemahnya sistem pengamanan.

Alat tersebut, kata Ito, merupakan bagian terpisah dari mesin ATM itu sendiri sehingga perlu dilakukan pemasangan alat pada mesin ATM. Ia mengatakan, penggagas dari penggunaan alat tersebut adalah Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis), sementara yang akan mempersiapkan adalah salah satu vendornya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau