Jangan Sampai Terbelit Hutang karena Kanker Serviks!

Kompas.com - 27/01/2010, 15:29 WIB

KOMPAS.com - Isu tentang kanker serviks makin hangat belakangan ini. Bagaimana tidak, di Indonesia, setiap jam satu perempuan meninggal karena kanker serviks. Tidak heran bila Perempuan Peduli Kanker Serviks (PPKS, yang berada di bawah Yayasan Kanker Indonesia) merasa perlu lebih meningkatkan kewaspadaan mengenai penyakit mematikan ini. Bahkan PPKS mengadakan program pap smear gratis untuk 2.000 perempuan di Jabotabek.

Setiap perempuan memiliki risiko untuk terkena kanker serviks, tanpa melihat kondisi sosial, ekonomi, status, dan usia. Kasus kanker serviks di Indonesia sangat tinggi, karena kurangnya kesadaran perempuan untuk melakukan deteksi dini.

''Mereka mungkin merasa takut, atau merasa tidak memiliki gejala-gejala kanker serviks dan hanya menunggu, sehingga saat diketahui sudah stadium lanjut,'' tutur Ketua II YKI dr Mellisa S Luwia, SpBP, dalam peringatan satu tahun PPKS-YKI di Jakarta Pusat, Senin (25/1/2010) lalu.

Ketidaktahuan tersebut umumnya disebabkan karena kanker serviks tidak menunjukkan gejala khusus. Ketika sudah memasuki stadium lanjut, penderitanya harus menjalani serangkaian pengobatan yang tidak murah. Padahal, dari banyak kasus yang terjadi, perempuan yang terkena umumnya berada pada usia produktif (baik ibu rumah tangga maupun yang bekerja). 

Sebagai gambaran saja, biaya pengobatan dan terapi pra-kanker atau kanker serviks (meliputi pembedahan atau pengangkatan rahim, radioterapi, kemoterapi, kolposkopi, dan biopsi) akan menghabiskan sekitar Rp 60 juta. Itu belum termasuk biaya pengobatan setelah menjalani seluruh perawatan, dan biaya untuk konsultasi rutin setelah lepas dari kanker. Sementara, biaya yang diperlukan untuk pencegahan kanker serviks dengan deteksi dini (pencegahan sekunder) cukup dengan melakukan pap smear atau IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) secara teratur dengan biaya antara berkisar Rp 50.000 - Rp 200.000 (sekali periksa).

Jika sudah terkena penyakit ini, dipastikan penderita terbelit biaya pengobatan yang begitu besar, dan hal ini kerap menimbulkan beban bagi penderita maupun keluarganya.

''Makanya program penyuluhan ini diharapkan akan lebih menggugah kesadaran para perempuan untuk segera melakukan tindakan pencegahan kanker serviks. Karena setiap perempuan berisiko terkena kanker serviks, padahal kanker serviks dapat dicegah,'' jelas dr Mellisa.

Untuk mengetahui apakah kita memiliki bibit kanker serviks, diperlukan pap smear lebih dari satu kali (setahun satu kali). Pada pap smear pertama virus yang menginvasi rahim bisa jadi belum terlihat. Setelah pemeriksaan kedua (tahun selanjutnya, RED) baru terlihat jelas. Karena itu pemeriksaan pap smear rutin perlu dilakukan setiap tahun. Selain dengan pap smear, kanker serviks juga dapat dicegah dengan vaksinasi yang saat ini sudah lebih terjangkau harganya.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda sudah rutin menjalani pap smear? Anda tinggal mengunjungi dokter kandungan Anda di tempat prakteknya untuk mendapatkan pemeriksaan ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau