YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dua patung babi terbuat dari kertas dengan gambar dan kalung foto Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono, mewarnai aksi unjuk rasa mahasiswa di Bunderan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Kamis (28/1/2010).
Demonstrasi dilakukan oleh 12 elemen mahasiswa yang tergabung dalam Aliasi Rakyat Menggugat. Sementara itu, aksi serupa juga dilakukan kelompok mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat di tiga titik lainnya di Yogyakarta . Ketiganya adalah halaman DPRD DIY dan depan Kantor Gubernur DIY di Jalan Malioboro, serta perempatan Gondomanan.
Menurut Aliansi Rakyat Menggugat, 100 hari pemerintahan SBY-Boediono tidak menjadikan kondisi negara semakin baik. Pemerintah justru memerparah kesengsaraan masyarakat. Sistem neoliberalisme yang digunakan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan rakyat tidak membuahkan hasil.
"Tidak bisa lagi kita memercayakan terhadap rezim SBY-Boediono dan elit-elit busuk yang mengambil keuntungan dari kondisi sekarang. Kami sudah sampai pada kesimpulan rezim sekarang sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Rakyat sudah saatnya untuk tidak memercayainya. Rakyat sudah saatnya membangun kepercayaan dirinya, memulai pembangunan organisasi dan kesatuan sebagai embrio pemerintahan kerakyatan," papar Mutiara Ika Pratiwi, Humas Aliansi Rakyat Menggugat.
Melihat kondisi sekarang, pengunjuk rasa mengeluarkan 14 point tuntutan, antara lain tolak national summit, tegakkan demokrasi pro-rakyat, buka lapangan pekerjaan, dan tolak Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA).
Sebaliknya, Aliansi Rakyat Menggugat menawarkan jalan keluar, antara lain nasionalisasi aset tambang dan aset strategis lain di bawah control rakyat dan pembebasan nasional lawan imperialisme global menuju pemerintahan prorakyat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang