Pembunuhan nasruddin

Wiliardi: Jaksa Halangi Saya Cabut BAP

Kompas.com - 28/01/2010, 13:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Terdakwa kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasruddin Zulkarnaen, Kombes Wiliardi Wizard, menaruh curiga kepada jaksa penuntut umum (JPU). Wiliardi curiga bahwa kejaksaan telah menyusun skenario kejam untuk dirinya.

"Setelah mendengar tuntutan dari jaksa yang muncul di pemikiran saya adalah skenario kejam inikah yang dari awal sudah digariskan oleh kejaksaan bersama penyidik," tuturnya dalam sidang pembacaan pleidoi di PN Jakarta Selatan, Kamis (28/1/2010).

Alasannya, ungkap Wiliardi, salah satu jaksa, yaitu Bambang Suharyadi, pernah berupaya agar dirinya tidak mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disusun tanggal 30 April 2009.

Wiliardi merasa nasib dan kehidupannya seperti direncanakan oleh segelintir orang dengan sikap arogan dan hanya berdasar pada imajinasi. "Bukan saya yang melakukan penganjuran untuk merencanakan pembunuhan, tapi penyidik dan jaksalah yang secara nyata telah merencanakan pembunuhan terhadap saya dan kemudian membuktikannya dalam tuntutan," ungkapnya kemudian.

Dalam pembacaan pleidoi ini, Wiliardi mengajukan permintaan untuk mencabut BAP pada tanggal 30 April 2009 tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau